Pages

Welcome in MY BLOG....!!Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat ^_^.

Senin, 01 Oktober 2012

Pengaruh Kecepatan Purse Seine Terhadap Hasil Tangkapan

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Alat tangkap purse seine berkembang pesat di laut Jawa pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Perkembangannya berkaitan erat dengan pelarangan pengoperasian alat tangkap jenis trawl atau pukat harimau di seluruh perairan Indonesia pada tahun 1985 kecuali ke arah timur dari 130 BT. So, sejak 1985 Trawl atau Pukat Harimau hanya boleh beroperasi di perairan timur Indonesia dan sejak itu pulah purse seine berkembang pesat di Laut Jawa.

Pekalongan merupakan basis utama kapal-kapal purse seine yang beroperasi di Laut Jawa dan sekitarnya. Pada tahun 1999 saja jumlahnya sudah mencapai ± 450 kapal. Daerah operasi penangkapan ikan kapal-kapal tersebut meliputi seluruh perairan Laut Jawa, sebagian Selat Karimata, Perairan Masalembo (tempat Tampomas II tenggelam), hingga ke Selat Sulawesi. Dengan jangkauan yang lumayan luas tersebut, kapal-kapal purse seine Pekalongan rata-rata beroperasi di laut selama 20-40 hari dengan ABK berjumlah 30-40 orang per kapal.

Berdasarkan ukuran kapal, mesin penggerak dan daerah tangkapan, purse seine di utara jawa dikelompokkan dalam 3 kelas, yaitu purse seine besar, sedang dan mini (Potier dan Sadhotomo, 1995. Wijopriono dkk., 1996). Purse Seien besar berukuran panjang di atas 24 m, umunya dilengkapi mesin penggerak 240 HP ke atas, dengan derah penangkapan melewati batas-batas Laut jawa. Purse Seine sedang, berukuran panjang 19-24 m, dilengkapi mesin penggerak 160  HP ke atas, dengan daerah tangkapan umumnya masih dalam batas-batas wilayah Laut Jawa. Sementara Purse Seine mini berukuran panjang 12-18m, dilengkapi satu atau dua buah mesin outboard 25-30 HP, hanya mampu beroperasi sepanjang pantai Laut Jawa dengan hari operasi di laut tidak lebih dari 4 hari.

Di perairan pantai utara Jawa Tengah, eksploitasi sumberdaya ikan pelagis dilakukan terutama oleh armada purse seine mini. Walaupun demikian, Kapal-kapal yang  berasal dari Jawa Timur seperti Bulu (Tuban), Karnji, dan Weru (Lamongan) umumnya menjadi pendatang pada perairan utara Jawa Tengah. Pergerakan purse seine mini di sepanjang pantai utara Jawa mengikuti pola musim ikan.

Pada prinsinya mesin yang digunakan pada kapal perikanan adalah sama dengan mesin yang digunakan pada kapal lainnya, namun yang membedakan adalah kelengkapan alat bantu yang sesuai dengan fungsi dari kapal itu sendiri.

Pada saat ini alat penggerak mesin diesel merupakan alat penggerak yang paling banyak digunakan untuk menggerakkan kapal, baik kapal-kapal baja maupun kapal penangkap ikan, karena penggunaan mesin diesel dipandang paling efektif dan sederhana, sederhana dalam pengoperasiannya dan dengan unit yang kecil dapat menghasilkan tenaga yang memadai, sehingga sangat efektif. Namun demikian dalam menentukan besarnya daya mesin yang akan digunakan untuk menggerakkan kapal ada beberapa hal yang harus diperhitungkan, antara lain : ukuran utama kapal, kecepatan kapal yang dibutuhkan, tahanan kapal yang terjadi dan efisiensi pemakaian bahan bakar. Kebanyakan para pemilik/juragan kapal penangkap ikan tidak memperhitungkan hal-hal tersebut diatas. Hal ini diperoleh dari hasil pengamatan awal, bahwa terdapat kapal-japal purse seineyang mempunyai ukuran utama dan GT yang hampir sama, tetapi menggunakan daya mesin yang berbeda. Dan terdapat juga kapal purse seine yang mempunyai ukuran utama dan GT lebih kecil menggunakan daya mesin yang cukup besar.

DATA SEKUNDER
Kapal Purse Seine
Seperti halnya kapal-kapal ikan tradisional Indonesia, kapal purse seine yang beroperasi di Laut Jawa juga terbuat dari kayu. Ukurannya beragam dari yang paling kecil dengan 30 Gross Tonnage (GT) sampai dengan 200-250 GT. Pada awalnya kapal-kapal ikan jenis ini dibuat di Bagan Siapi-api, salah satu daerah penghasil ikan terkenal di Indonesia pada dekade 1980-an, sehingga dikenal juga dengan sebutan kapal bagan. Namun seiring perjalanan waktu, kini kebanyakan kapal-kapal tersebut dibuat di Batang, sebuah kota kecil sebelah timur Pekalongan. Banyak orang mengira bahawa kapal-kapal ini dibuat langsung di Pekalongan, tapi sesungguhnya Batang-lah yang menjadi pusat pembuatannya. Bahkan jika kapal tersebut dibuat di galangan kapal Pekalongan, maka pekerja dipastikan berasal dari Batang.

Pada dasarnya kapal purse seine Pantura merupakan kapal purse seine type Skandinavia. Pada kapal jenis ini, ruang kemudi (Wheel House) terletak di bagian belakang kapal (buritan) sedangkan bagian depan (haluan) sampai ke bagian tengah diisi oleh palka-palka ikan yang jumlahnya bervariasi dari 8 buah sampai 18 buah tergantung ukuran kapal. Mesin utama terletak tepat di bagian bawah ruang kemudi berdampingan dengan mesin pembantu yang berfungsi sebagai generator untuk menyalakan lampu-lampu pemikat ikan. Ajaibnya mesin utama yang digunakan bukanlah marine engine yang khusus diperuntukan buat kapal ikan seperti caterpillar atau yanmar, tapi menggunakan mesin truck. Yap, betul banget, mesin truck. Biasanya kapal-kapal ini menggunakan mesin diesel Mitsubishi atau Nissan dengan kekuatan berkisar 120 – 300 PK . Hebatnya lagi, dengan bermodalkan mesin ini, kapal-kapal tersebut sanggup mengarungi Laut Jawa sampai dengan 40 hari.

Meskipun terbuat dari kayu, alat navigasi kapal-kapal purse seine Laut Jawa lumayan lengkap. Pastinya kapal ini dilengkapi dengan GPS receiver sebagai penunjuk arah selain kompas. GPS ini juga bisa digunakan untuk menyimpan posisi dan lokasi rumpon yang telah diturunkan pada pelayaran sebelumnya atau untuk menyimpan lokasi daerah penangkapan ikan yang berlimpah. Selain GPS, kapal ini juga dilengkapi dengan fish finder seperti SONAR atau Echosounder. Bahkan beberapa kapal juga dilengkapi dengan Marine Radar. Pastinya kapal yang tumpangi selama penelitian dilengkapi oleh itu semua. Kini setidaknya semua kapal purse seine yang beroperasi di Laut Jawa dilengkapi dengan GPS dan sonar atau echosounder.

Mesin Kapal Perikanan
Mesin yang digunakan pada kapal perikanan ikan adalah sama dengan mesin yang digunakan pada kapal niaga lainnya. Namun yang membedakan adalah kelengkapan alat bantu sesuai dengan fungsi dari kapal itu sendiri.

Menurut Budihardjo (2000), permesinan kapal terdiri dari mesin utama dan pesawat bantu yang menunjang kelancaran pengoperasional kapal yang mencakup keperluan-keperluan antara lain :
- Melayani keperluan kerja mesin induk seperti: sirkulasi air, minyak pelumas,pelayanan bahan bakar, cooler, dan kondensor. 
- Penanggulangan air got dan penyelenggaraan keseimabangan kapal.
- Pelayanan kebutuhan umum, penyelanggaran.
- Membantu/meneruskan gerakan kapal, susunan poros propeller dan mesin kemudi.
- Menyelanggarakan tenaga listrik untuk penerangan dan lain lain.
- Penambatan kapal, penangkapan ikan, serta muatan, windlass, capstan, mesin winches, mesin jangkar.
- Penyelenggaraan keselamatan
Mesin Diesel
Mesin diesel tidak memerlukan pembakaran luar dengan mencampur udara dan bahan bakar yang ada didalam mesin, lebih dari itu, mesin ini dilengkapi dengan penekan udara dalam mesin silinder dan memanaskan hingga kemesin, tekanan udara tersebut akan berhubungan dengan udara yang ada sebelumnya diakhiri tempo tekanan. Tekanan inilah yang memanaskan mesin, hasilnya mesin diesel lebih kecil dan lebih ringan daripada mesin sebelumnya yang biasa digunakan pada kendaraan serta tidak menggunakan bahan bakar sebagai sumber pembakaran. Diesel ingi rancangan menjadi nyata, sebuah mesin yang handal, untuk menyempurnakan dia membutuhkan perusahaan besar untuk bekerjasama sebagai penyandang dana dalam pembuatan mesin resebut, setelah memperoleh rekan bisnisnya, dia langsungmemproduksi sebuah mesin uji dan prototipenya berhasil dibuat tahun 1897.

Gambaran Umum Mesin Penggerak Kapal
Berdasarkan penggunaannya, motor penggerak kapal ikan dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu mesin darat (stationary engine) dan mesin laut (marine engine). Jenis marine engine merupakan jenis mesin yang paling baik untuk digunakan sebagai penggerak kapal ikan karena mesin tersebut memang dirancang untuk digunakan sebagai penggerak kapal ikan serta dirancang khusus untuk keperluan lingkungan laut dan lebih tahan korosif. Namun demikian sekarang nelayan banyak menggunakn mesin darat bahkan mesin mobil sebagai penggerak, terutama dengan memodifikasikan system pendinginnya. Alasan nelayan menggunakan mesin darat karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan marine engine, juga suku cadangannya lebih mudah untuk didapatkan terutama didaerah perkampungan nelayan.

Berdasarkan letak motor ada 3 jenis motor penggerak yaitu : motor temple, motor luar/warangan, (outboard motor), motor dalam (inboard  motor). Berdasarkan bahan bakarnya motor penggerak kapal ada 3 jenis yaitu : motor solar, motor bensin dan motor minyak tanah. Pada umumnya motor temple menggunakan bahan bakar bensin atau minyak tanah yang ditempatkan diburitan kapal, sedangkan motor luar/warangan (poros balin-baling panjang) mengguanakan bahan bakar solar yang dipasang disamping kapal. 

Sistem Perpipaan
Sistem Air Tawar
Sistem pipa air tawar dan pendingin air tawar diantaranya pompa air tawar; pompa dan hidrofor air tawar; pipa-pipa; katup-katup; dan perlengkapan lainnya. Tangki-tangki air tawar dihubungkan dengan pompa air tawar melalui pipa-pipa air tawar setelah sebelumnya melewati filter penyaring terlebih dahulu. Pompa air tawar tersebut kemudian dihubungkan dengan tangki dan pompa hidrofor air tawar yang kemudian didistribusikan ke tempat-tempat yang memerlukan air tawar dan ke sistem pendinginan air tawar mesin induk dan mesin bantu. Mesin induk dan mesin bantu telah dilengkapi alat pendingin (cooler) dan perlengkapan lainnya sesuai dengan standar pabrik pembuat.

Pipa sistem pendingin air tawar terbuat dari pipa baja tanpa kampuh memanjang (seamless pipe) yang digalvanisir dan dilengkapi penyambung-penyambung sistem pipa yang fleksibel dan perlengkapan-perlengkapan standard dari pabrik pembuat.

Sistem Air Laut
Instalasi sistem saniter air laut diantaranya pompa dan hidrofor air laut; pipa pipa; katup-katup; dan perlengkapan lainnya. Hidrofor dihubungkan dengan instalasi sistem pipa balas untuk mendapatkan suplai air laut, yang kemudian didistribusikan ke tempat-tempat yang membutuhkan.

Sistem Bahan Bakar
Aliran bahan bakar diambil tanki port dan tanki starboard bahan bakar didasar ganda dengan pompa pemindah bahan bakar setelah sebelumnya melewati filter penyaring bahan bakar. Kemudian aliran bahan bakar dibagi dua ke tanki harian bahan bakar untuk mesin induk dan mesin bantu pada sisi port dan starboard dan seterusnya disalurkan kepada mesin-mesin yang membutuhkan. Bahan bakar sisa pembakaran disalurkan kembali ke tanki harian setelah melewati filter penyaring.

Sistem Pelumas
Sistem minyak pelumas tidak menggunakan pompa tambahan, tetapi pompa minyak lumas yang telah menjadi bagian dari paket instalasi mesin induk (factory accessories). Minyak lumas setelah melewati filter langsung disalurkan dari tanki menuju mesin-mesin induk dan mesin-mesin bantu.

Sistem Udara bertekanan
Sistem udara tekan ini digunakan untuk penyemprotan kerangan-kerangan laut di kamar mesin, menstart mesin induk, sistem pneumatik pada reversing gear box motor induk, seruling kapal, cuci-mencuci peralatan permesinan dan lain-lain.Instalasi pipa udara tekan ini cocok untuk sistem udara tekan dengan tekanan kerja 30 kg/cm2. Udara yang dihasilkan dari kompresor udara diisikan ke dalam botol angin

Pipa-pipa dibuat dari baja hitam tahan tekanan tinggi dan tahan terhadap korosi air laut, dilengkapi sertifikat pabrik pembuat atau sertifikat kelas untuk pipa baja hitam tahan tekanan tinggi. Katup-katup juga dari bahan yang sesuai standard pabrik pembuat dan persyaratan kelas tahan tekanan tinggi dan korosi air laut.

Definisi Purse Seine
Purse seine, pertama kali diperkenalkan di Pantai Utara Jawa oleh BPPL (LPPL) pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan pengusaha perikanan di Batang (Bpk. Djajuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar (1973/1974) dan berkembang pesat sampai sekarang. Pada awal pengembangannya di Muncar sempat menimbulakan konflik sosial antara nelayan tradisional nelayan pengusaha yang menggunakan purse seine. Namun akhirnya dapat diterima juga. Purse seine ini memang potensial dan produktivitas hasil tangkapannya tinggi. Dalam perkembangannya terus mengalami penyempurnaan tidak hanya bentuk (kontruksi) tetapi juga bahan dan perahu/kapal yang digunakan untuk usaha perikanannya.

Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut/tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap akhir penangkapan.

Di Jepang purse seine dapat dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.One Boat Horse Sardine Purse Seine
2.Two Boat Sardine Purse Seine
3.One Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
4.Two Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
5.One Boat Skipjack and Tuna Purse Seine
6.Two Boat skipjack and Tuna Purse Seine 

Dari keenam macam purse seine di atas no (2), (3), (5) merupakan purse seine yang banyak digunakan.
Bahan dan Spesifikasi Purse Seine
Spesifikasi teknis alat tangkap purse seine terdiri dari :
Tali iris atas : Tali PE (polyethylene) atau PP (polypropylene).
Ukuran mata jaring : Untuk menangkap ikan pelagis kecil sayap dan mesh size badan berukuran > 50 mm dan kantong berukuran > 25 mm.
Tali ris bawah : Tali PE, PA atau bahan lain
Tali kolor (purse line) : Tali PE, PA atau bahan lain
Pelampung : Plastik atau styrofoam
Cincin : Terbuat dari besi tahan karat (stainless steel)
Alat Bantu : Alat bantu untuk menarik dan mengangkat jaring yatu net drum, line hauler/kapstan, winch dan power block. Alat bantu pengumpul ikan berupa rumpon atau lampu.

Jaring purse seine terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian sayap dan kantong. Bagian kantong berada ditengah diapit oleh bagian sayap pada kedua sisinya. Panjang jaring 400 – 700 meter, kedalaman 40 – 70 meter dan ukuran mata jaring kantong ¾ inchi. Bahan jaring adalah nylon multifilament dengan nomor benang dan mata jaring yang berbeda. Bagian kantong menggunakan nomor benang 210d/12 dengan ukuran mata jaring 19 mm, bagian sayap menggunakan nomor benang 210 d/9 dengan ukuran mata jaring 25,4 mm. Bagian badan sayap dan bagian bawah kantong menggunakan nomor benang 210 d/6 dengan ukuran mata jaring 25,4 mm.

Ada 2 pelampung dengan 2 bahan yang sama yakni synthetic rubber. Pelampung Y-50 dipasang dipinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir.

Cara Pengoperasian Purse Seine
Prinsip penangkapan ikan dengan purse seine ialah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jarring, setelah itu jarring pada bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan akan terkumpul di bagian kantong. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang termasuk kedalam golongan pelagic shoaling species yang berarti ikan-ikan tersebut membentuk suatu shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface). Metode pengoperasian purse seine secara rinci yaitu dimulai kapal berangkat menuju lokasi penangkapan. Ada dua metode  untuk penangkapan, yaitu dengan mengejar gerombolan ikan atau dengan menggunakan alat bantu pengumpul (rumpon, lampu dan lainnya). Setelah ikan terkumpul atau terkonsentrasi pada daerah tertentu maka nelayan mulai menurunkan jarring (setting), pertama dengan menurunkan ujung jarring dengan pelampung., kemudian secara perlahan melingkari gerombolan ikan yang terkonsentrasi sampai pada ujung jaring yang pertama. Setelah itu dilakukan tahap yang berikut adalah hauling atau penarikan jaring yaitu dengan menarik tali kolor, sehingga akhirnya ikan terkumpul pada kantong. Purse seine atau jaring lingkar adalah jenis jaring penangkap ikan berbentuk persegi panjang atau trapezium, dilengkapi dengan tali kolor yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah), sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah jaring dapat dikuncupkan sehingga gerombolan ikan terkurung dalam jaring.

Hasil Tangkapan
Pada dasarnya alat tangkap purse seine digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis, yaitu ikan-ikan yang bergerak bebas di permukaan dan pertengahan perairan. Alat tangkap purse seine bisa digunanakn untuk menangkap ikan pelagis kecil, seperti halnya yang dioperasikan di Laut Jawa, atau untuk menangkap ikan-ikan pelagis berukuran besar seperti tongkol, tenggiri, cakalang atau bahkan tuna. Purse Seine jenis ini umumnya dioperasikan dengan ukuran kapal yang lebih besar dan kadang kala menggunakan speed boat tambahan untuk melingkarkan jaring agar ”pengepungan” gerombolan ikan berlangsung sempura dan cepat sehingga gerombolan ikan tersebut tidak dapat melarikan diri. Kapal-kapal purse seine jenis ini biasa beroperasi di perairan Laut Sulawesi dan Samudra Pasific yang terkenal kaya akan sumberdaya cakalang dan tongkol.

Khusus untuk purse seine Laut Jawa, ikan yang tertangkap tidak hanya didominasi jenis ikan-ikan pelagis tapi juga ikan-ikan demersal yang hidup di dasar perairan. Hal ini berkaitan dengan ukuran jaring yang digunakan oleh kapal-kapal tersebut. Umumnya jaring purse seine Laut Jawa berukuran panjang 600-900 meter sedangkan lebarnya (kedalamannya) berkisar antara 60-80 meter. Sementara itu, kedalaman rata-rata di Laut Jawa adalah 30-60 meter. Dengan kata lain, jaring yang digunakan dapat mencapai dasar perairan, bahkan lebih. Jadi nggak heran kalau ikan-ikan dasar yang bukan sasaran operasi penangkapan juga ikut terbawa. Bahkan ada anekdot diantara nelayan purse seine bahwa dasar Laut Jawa itu sudah licin seperti ubin karena terlau sering terkeruk oleh jaring-jaring purse seine kapal-kapal yang beroperasi di daerah tersebut. Anekdot lainnya adalah perumpamaan Laut Jawa sebagai pasar malam akibatnya banyaknya kapal-kapal purse seine yang beroperasi di malam hari. Lampu-lampu berkekuatan tinggi yang berfungsi sebagai pemikat ikan dinyalakan oleh kapal-kapal yang beroperasi sehingga dari kejauhan tampak seperti warung-warung terapung yang memenuhi daerah penangkapan ikan di Laut Jawa.

Alat Bantu Penangkapan
Dalam pengoperasian alat tangkap purse seine biasanya menggunakan alat bantu penangkapan sebagai berikut :
Lampu
Fungsi lampu untuk penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian dilakukan operasi penangkapan dengan menggunakan berbagai alat tangkap, seperti purse seine.Jenis lampu yang digunakan bermacam-macam, seperti oncor (obor), petromaks, lampu listrik (penggunaannya masih sangat terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian dari perikanan industri).
Ikan-ikan itu tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan sebab adalah sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh sinar / cahaya (phototaxis positif) dan karena itu mereka selalu berusaha mendekati asal / sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya.

Rumpon
Rumpon merupakan suatu bangunan (benda) menyerupai pepohonan yang dipasang (ditanam) di suatu tempat ditengah laut. Pada prinsipnya rumpon terdiri dari empat komponen utama, yaitu : pelampung (float), tali panjang (rope) dan atraktor (pemikat) dan pemberat (sinkers / anchor).
Rumpon umumnya dipasang (ditanam) pada kedalaman 30-75 m. Setelah dipasang kedudukan rumpon ada yang diangkat-angkat, tetapi ada juga yang bersifat tetap tergantung pemberat yang digunakan.
Dalam praktek penggunaan rumpon yang mudah diangkat-angkat itu diatur sedemikian rupa setelah purse seine dilingkarkan, maka pada waktu menjelang akhir penangkapan, rumpon secara keseluruhan diangkat dari permukaan air dengan bantuan perahu penggerak (skoci, jukung, canoes)

Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan
Kecerahan Perairan
Transparasi air penting diketahui untuk menentukan kekuatan atau banyak sedikit lampu. Jika kecerahan kecil berarti banyak zat-zat atau partikel-partikel yang menyebar di dalam air, maka sebagian besar pembiasan cahaya akan habis tertahan (diserap) oleh zat-zat tersebut, dan akhirnya tidak akan menarik perhatian atau memberi efek pada ikan yang ada yang letaknya agak berjauhan.

Adanya Gelombang
Angin dan arus angin. Arus kuat dan gelombang besar jelas akan mempengaruhi kedudukan lampu. Justru adanya faktor-faktor tersebut yang akan merubah sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi berubah-ubah dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Makin besar gelombang makin besar pula flickering lightnyadan makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik perhatian ikan-ikanmaupun biota lainnya menjadi lebih besar karena ketakutan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan penggunaan lampu yang kontruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi reflektor dan kap (tudung) yang baik atau dengan menempatkan under water lamp.

Sinar Bulan
Pada waktu purnama sukar sekali untuk diadakan penangkapan dengan menggunakan lampu (ligth fishing) karena cahaya terbagi rata, sedang untuk penangkapan dengan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya ;ampu terbias sempurna ke dalam air.

Musim
Untuk daerah tertentu bentuk teluk dapatmemberikan dampak positif untuk penangkapan yang menggunakan lampu, misalnya terhadap pengaruh gelombang besar, angin dan arus kuat. Penangkapan dengan lampu dapat dilakukan di daerah mana saja maupun setiap musim asalkan angin dan gelombang tidak begitu kuat.

Ikan dan Binatang Buas
Walaupun semua ikan pada prinsipnya tertarik oleh cahay lampu, namun umumnya lebih didominasi oleh ikan-ikan kecil. Jenis-jenis ikan besar (pemangsa) umumnya berada di lapisan yang lebih dalam sedang binatang-binatang lain seperti ular laut, lumba-lumba berada di tempat-tempat gelap mengelilingi kawanan-kawanan ikan-ikan kecil tersebut. Binatang-binatang tersebut sebentar-sebentar menyerbu (menyerang) ikan-ikan yang bekerumun di bawah lampu dan akhirnya mencerai beraikan kawanan ikan yang akan ditangkap.

Panjang dan Kedalaman Jaring
Untuk purse seine yang beroperasi dengan satu kapal digunakan jaring yang tidak terlalu panjang tetapi agak dalam karena gerombolan ikan di bawah lampu tidak bergerak terlalu menyebar . jaring harus cukup dalam untuk menangkap gerombolan ikan mulai permukaan sampai area yang cukup dalam di bawah lampu.
Kecepatan kapal pada waktu melingkari gerombolan ikan
Jika kapal dijalankan cepat maka gerombolan ikan dapat segera terkepung.
Kecepatan Menarik Purse Line
Purse line harus ditarik cepat agar ikan jangan sampai melarikan diri ke bawah.

DATA PRIMER
Purse seine merupakan alat tangkap yang paling banyak digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis kecil di Laut Jawa. Alat tangkap purse seine tersebut digunakan oleh nelayan-nelayan di lokasi kajian, yaitu Indramayu, Tegal, Pekalongan, Banyuwangi dan Bali. Karakteristik teknis usaha penangkapan ikan pelagis kecil dapat dilihat pada tabel berikut.

Armada perikanan purse seine di lokasi kajian umumnya dioperasikan oleh usaha perorangan, menggunakan kasko berbahan dasar kayu. Mesin yang digunakan cukup bervariasi, dengan kekuatan mesin antara 20-360 HP, tergantung dari besarnya ukuran kapal dari wilayah operasi penangkapan.

Kapal purse seine yang dioperasikan di Indramayu merupakan kapal-kapal purse seine berukuran kecil (10-30 GT), dengan kekuatan mesin sebesar 20 HP. Operasi penangkapan dilakukan secara one day fishing. Kapal purse seine yang dioperasikan di Tegal merupakan kapal-kapal purse seine berukuran sedang (30-50 GT), dengan kekuatan mesin sebesar 120 HP. Operasi penangkapan dilakukan dengan jumlah hari trip yaitu antara  7-20 hari per trip. Kapal purse seine yang dioperasikan di Pekalongan merupakan kapal-kapal purse seine berukuran besar (100-130 GT), dengan kekuatan mesin sebesar 120-360 HP. Operasi penangkapan dilakukan dengan jumlah hari yaitu 10-40 hari per trip. Sedang kapal purse seine yang dioperasikan di Juwana Pati merupakan kapal-kapal purse seine juga berukuran besar (30-50 GT dan 50-100 GT), dengan kekuatan mesin sebesar 300-360 HP. Operasi penangkapan dilakukan dengan jumlah hari 10-40 hari per trip.

Karakteristik kapal purse seine yang beroperasi di Tegal, Pekalongan dan Pati merupakan kapal-kapal sedang dan besar sesuai dengan ukuran GT (30-100 GT), sedangkan kapal-kapal yang beroperasi di daerah Indramayu merupakan kapal-kapal purse seine berukuran kecil (one day fishing).

Sistem Penggerak Kapal
Tenaga penggerak kapal: Baling-baling tetap (Fixed propeller)
- Model                            : YX.120
- Jumlah Daun                 : 4(empat) buah
- Diameter x Pitch           : 1130 x 711 mm
- Bahan                            : Kuningan
Poros baling-baling
- Diameter x panjang poros  utama       : 90 x 2485 mm
- Bahan poros utama                             : Stainless steel
- Diameter x panjang poros antara        : 80 x 1500mm
- Bahan poros antara                             : Carbon Steel
Tenaga penggerak kapal: baling-baling tetap (Fixed propeller)
- Model                         : YX.120
- Jumlah daun               : 4(empat) buah
- Diameter x pitch         : 1130 x 711 mm
- Bahan                         : Kuningan
Poros baling-baling
- Diameter x panjang poros  utama       : 90 x 2485 mm
- Bahan poros utama                             : Stainless steel
- Diameter x panjang poros antara        : 80 x 1500mm
- Bahan poros antara                             : Carbon Steel

PEMBAHASAN
Analisa Efisiensi Daya Mesin
Analisis efisiensi penangkapan dilakukan dengan cara menghitung nilai efisiensi daya mesin yang dibutuhkan saat kecepatan maksimum dan efisiensi waktu operasi penangkapan ikan. Nilai efisiensi operasi penangkapan sangat membantu untuk menemukan pola operasi yang tepat untuk alat tangkap purse seine. Langkah perhitungan untuk efisiensi daya mesin, adalah :

Menghitung Tahanan Kapal
Untuk menentukan daya mesin kapal terlebih dahulu dihitung tahanan tota kapal, tahanan total (Rt) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Rt = ½ x ρ x V2 x Ct x S (Fyson, 1985)
Dimana :
Rt : Tahanan total
V : Kecepatan kapal (m/s)
Ct : Koefisien tahanan total
p : Masa jenis
S : Luas permukaan basah (WSA) (m2) 

Menghitung Efisiensi Daya Mesin
Efisiensi daya mesin diperoleh dengan membandingkan antara daya yang dibutuhkan saat kecepatan maksimum dengan daya mesin terpasang. Nilai efisiensi ini digunakan untuk mengetahui jumlah daya yang terpakai dan apabila ada sisa daya yang belum terpakai, bisa digunakan untuk lainnya (seperti : memutar line houler, lampu dll). Untuk menghitung efisiensi daya mesin dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
η =  x 100%
Dimana :
P     : Daya mesin saat kecepatan maksimum
Po   : Daya mesin terpasang

Mengukur Kebutuhan Bahan Bakar
Untuk menentukan data kebutuhan bahan bakar pada masing-masing kapal dengan ukuran GT berbeda, menggunakan alat ukur (pipa kapiler) untuk mengukur kedalaman isi tangki bahan bakar, tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut : 
- Persiapan alat tangki dengan pipa ukur, alat pencatat waktu, kemudian bahan bakar di pompakan ke tangki ukur.
- Ukur kedalam isi tangki bahan bakar, di dermaga saat akan berangkat melaut atau 0,0 jam dan di catat dalam table.
- Kapal diberangkatkan melaut selama 1/2 jam dan kembali ke dermaga.
- Ukur ulang isi tangki bahan bakar saat kapal kembali ke dermaga dan catat dalam table.

Sistem Pembakaran
Bahan bakar yang berasal dari tangki dialirkan ke saringan bahan bakar melalui solar dan setelah disaring bahan bakar ini terus mengalir ke pompa bahan bakar tipe bosch pump melalui pipa penghubung dari filter. Dari pompa ini pompa dialrkan ke nozel dengan menggunakan pompa penyemprot bahan bakar dan selanjutnya terjadi pengabutan bahan bakar di dalam silinder yang telah dipenuhi dengan udara yang telah terkompresi. Bahan bakar sisa akan dialirkan kembali ke tangki solar.
 
Proses pembakaran dimulai saat tekanan udara dalam silinder pada akhgir langkah kompresi sekitar 40-45 Kg/cm2 dan temperaturnya naik kira-kira 6000C. Bahan bakar disemprotkan oleh injektor dalam bentuk kabut. penyalaan dimulai dari titik dimana campuran bahan bakar dan udara yang paling sesuai dan cocok terbentuk dan selanjutnya diikuti dengan pembakaran dari campuran tersebut. Pada motor diesel campuran bahan bakar dan udara dapoat menyala sendiri sehingga ada kelambatan (1/1000 sampai 4/1000 detik ) sebelum proses pembakaran yang sempurna terjadi. sedang terjadinya proses pembakaran tersebut, mengakibatkan temperatur dan tekanan naik (Karyanto, 2000).

Tahap/periode proses pembakaran motor diesel :
Periode Pertama merupakan kelambatan pembakaran. Dalam periode ini merupakan campuran dari bahan bakar yang merupakan partikel halus dengan udara sehingga membentuk campuran yang mudah terbakar. Kenaikan tekanan sesuai dengan gerak naiknya torak di dalam silinder.

Periode kedua yaitu penyebaran api/pembakaran cepat pada periode ini campuran bahan bakar dan udara yang mudah terbakar mulai terbakar, dan api menyebar ke seluruh ruang bakar dengan cepat, sehingga terbentuk letupan dalam silinder sehingga tekanan dan suhunya naik dengan cepat.

Periode ketiga pembakaran bahan bakar segera terbakar setelah disemprotkan pembakaran dapat dikontrol dengan sejumlah bahan bakar yang disemprotkan pada periode ini. Periode ini berhubungan dengan kecepatan penyemprotan, ukuran tetesan kabut dan jumlah penyemprotan.
Periode keempat adalah perioode pembakaran sisa. Meskipun penyemprotan bahan bakar telah selesai, keadaan pembakaran sempurna belum sepenuhnya tercapai dan masih akan terbakar pada proses ekspansi.

Sistem Pendinginan
Pada mesin land used menggunakan pendingin secara tidak langsung (tertutup), dan untuk di jadikan sebagai mesin kapal, maka sistem pendinginnya perlu diubah menjadi pendingin secara langsung (terbuka) yang menggunakan air laut yang digunakan untuk mendinginkan air tawar yang ada di dalam suatu unit mesin. Penggunaan air laut dapat menyebabkan daya tahan mesin berkurang, karena mesin land used tidak tahan terhadap korosi.

Suatu sistem pendingin mesin dengan media pendingin atau bahan untuk mendinginkannya menggunakan aliran udara yang dihasilkan dari hembusan kipas. Cara kerjanya yaitu udara dialirkan ke depan silinder dan silinder blok. Pada silinder blok dipasang sirip-sirip pendingin yang berfungsi untuk memperbesar luas permukaanya sehingga lebih mudah menyerap gas panas diambil langsung oleh udara melalui tiap-tiap sirip yang dipasangkan sekeliling silinder dan kepala silinder (Arends, 1994).

Sistem ini ditandai oleh adanya sirip yang dapat memperluas permukaan untuk tujuan pendinginan. Atmosfer yang menyusup diantara sirip mampu mendinginkan dinding silinder yang panas. Pada umumnya digunakan untuk mesin-mesin yang berukuran kecil dan bergerak, karena memanfaatkan angin yang menimpa motor saat motor itu bergerak (Heldt, P.M, 1956).

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari data-data yang telah didapatkan diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
- Kapal purse seine yang beroperasi di Laut Jawa juga terbuat dari kayu. Ukurannya beragam dari yang paling kecil dengan 30 Gross Tonnage (GT) sampai dengan 200-250 GT.
- Mesin yang digunakan pada kapal perikanan ikan adalah sama dengan mesin yang digunakan pada kapal niaga lainnya. Namun yang membedakan adalah kelengkapan alat bantu sesuai dengan fungsi dari kapal itu sendiri.
- Mesin diesel tidak memerlukan pembakaran luar dengan mencampur udara dan bahan bakar yang ada didalam mesin, lebih dari itu, mesin ini dilengkapi dengan penekan udara dalam mesin silinder dan memanaskan hingga kemesin, tekanan udara tersebut akan berhubungan dengan udara yang ada sebelumnya diakhiri tempo tekanan.
- Berdasarkan penggunaannya, motor penggerak kapal ikan dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu mesin darat (stationary engine) dan mesin laut (marine engine).
- Berdasarkan letak motor ada 3 jenis motor penggerak yaitu : motor temple, motor luar/warangan, (outboard motor), motor dalam (inboard  motor).
- Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut/tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap akhir penangkapan.
- Khusus untuk purse seine Laut Jawa, ikan yang tertangkap tidak hanya didominasi jenis ikan-ikan pelagis tapi juga ikan-ikan demersal yang hidup di dasar perairan. Hal ini berkaitan dengan ukuran jaring yang digunakan oleh kapal-kapal tersebut. Umumnya jaring purse seine Laut Jawa berukuran panjang 600-900 meter sedangkan lebarnya (kedalamannya) berkisar antara 60-80 meter. Sementara itu, kedalaman rata-rata di Laut Jawa adalah 30-60 meter. Dengan kata lain, jaring yang digunakan dapat mencapai dasar perairan, bahkan lebih.

Saran
Mahalnya harga marine engine membuat para nelayan mengganti mesin kapal mereka dengan mesin mobil yang teah dimodifikasi sistem pendinginannya dikarenakan harganya yang lebih terjangkau, namun jika memang hal itu dilakukan sebaiknya awak kapal harus mengerti tentang permesinan karena bisa jadi mesin macet di tengah laut dikarenakan mesin darat lebih rentan daripada mesin laut.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous a. 2010. Karakteristik Teknis Alat Tangkap Purse Seine, Payang  dan Gill Net pada Penangkapan Ikan Pelagis Kecil. http://frezeries.blogspot.com.
Anonymous b. 2010. Purse Seine Laut Jawa (Part1), (Part 2), (Part 3), (Part 4). http://camartolol.wordpress.com.
Sa’id, Solichin Djazuli. 2009. Proposal Kolokium : Kajian Ekonomis Penggunaan Daya Mesin Kapal Purse Seine di Perairan Pekalongan. Universitas Diponegoro. Semarang
Taufiq. 2010. Purse Seine. http://fiqrin.wordpress.com.
Wijopriono & Abdul Samad Genisa. 2003. Kajian Terhadap Laju Tangkap dan Komposisi Hasil Tangkapan Purse Seine Mini di Perairan Pantai Utara Jawa Tengah. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Injection Nozzle

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemanfaatan sumberdaya perikanan Indonesia belum sepenuhnya dilakukan secara optimal, pada perairan tertentu banyak yang belum dikelola sementara di perairan lain telah terjadi keleihan tangkap (over fishing) sebagai akibat dari banyaknya kapal yang melakukan penangkapan secara terus menerus dan tidak memperhatikan kelestarian sumberdaya ikan yang menjadi tujuan penangkapannya.

Kapal atau yang disebut juga armada merupakan salah satu perlengkapan untuk mensukseskan kegiatan perikanan tangkap selain faktor alat tangkap. Kapal perikanan mengalami banyak perubahan/ modifikasi dari waktu ke waktu terutama untuk tenaga pendorongnya untuk mengantarkan nelayan dari fishing base ke fishing ground dan kembali lagi ke fishing base. Apabila pada jaman dahulu kapal hanya bertenaga pendorong manual seperti halnya tenaga angin maupun tenaga manusia, sekarang kapal perikanan pada umumnya telah dilengkapi dengan tenaga motor untuk mempermudah nelayan dalam proses penangkapan maupun efisiensi waktu.

Kapal-kapal penangkapan ikan mempunyai variasi yang berbeda-beda dalam pemakaian motor sebagai tenaga pendorong kapal mereka. Motor menurut letak pemasangannya dibagi dua yaitu in board engine dan out board engine. Sedangkan dari jenisnya dibagi menjadi land used dan marine engine. Di lapangan saat ini banyak para nelayan yang menggunakan motor jenis land used dari pada marine engine. Sedangkan untuk nelayan dengan kapal ukuran dibawah 30 GT mereka menggunakan motor tempel dengan spesifikasi mesin untuk generator listrik.

Tujuan
Tujuan dari diadakannya kegiatan praktikum Mesin Kapal Perikanan ini adalah untuk memahami secara detail mesin kapal perikanan serta mengerti bagian-bagian mesin maupun fungsi dari mesin merk “Kim Dong Diesel CKD 1600 C”, khususnya pada bagian injection nozzle.

Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Mesin Kapal Perikanan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 24 November 2010, pukul 09.00-12.00 WIB di Laboratorium Alat Tangkap (Work Shop) Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang.

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Mesin
Mesin adalah gabungan dari alat-alat yang bergerak (dinamis) dan alat yang tidak bergerak (statis) yang bila bekerja dapat menimbulkan tenaga energi. Salah satu penggerak yang banyak dipakai adalah mesin kalor dan biasa disebut motor bakar. Motor bakar adalah mesin atau pesawat yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik, yaitu dengan cara merubah energi kimia dari bahan bakar menjadi energi panas, dan menggunakan energi tersebut untuk melakukan kerja mekanik. Energi termal diperoleh dari pembakaran bahan bakar pada masin itu sendiri. Jika ditinjau dari cara memperoleh energi termal ini (proses pembakaran bahan bakar), maka motor bakar dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu: motor pembakaran luar dan motor pembakaran dalam.

Mesin land used adalah mesin kapal yang dimodifikasi sedemikian rupa dari mesin darat. Umumnya mesin darat yang digunakan untuk menjadi sebuah mesin kapal aslinya digunakan sebagai generator listrik ataupun dari mesin truk. Mesin land used ini umumnya menggunakan sistem kerja 4 tak dimana membutuhkan 4 kali langkah untuk satu kali kerja. Hal ini dirasa efisien karena mengingat mesin 4 tak dianggap lebih hemat dalam hal bahan bakar. Mesin land used ini  tentunya mempunyai keuntungan dan kerugian. Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan mesin land used ini adalah harganya lebih murah daripada marine used. Tetapi dari segi ketahanan ataupun keawetan mesin marine used jauh lebih baik daripada mesin land used karena mesin land used dibuat untuk lingkungan di darat sementara di laut itu jauh lebih sulit mengingat adanya ombak dan arus laut sehingga membutuhkan ketahanan yang jauh lebih baik. Oleh karena itu mesin marine used jauh lebih baik ketahanannya daripada land used yang sudah dibuat sedemikian rupa untuk digunakan di laut. Tetapi umumnya masyarakat Indonesia masih menggunakan marine land used karena faktor ekonomi.

Penggolongan Motor Bakar
Penggolongan Berdasarkan Proses Pembakaran Energi
Pembagian motor bakar ditinjau dari proses pembakaran energi :
- Mesin pembakaran luar (external combution engine)
Pada motor pembakaran luar ini, proses pembakaran bahan bakar terjadi di luar mesin itu, sehingga untuk melaksanakan pembakaran digunakan mesin tersendiri. Panas dari hasil pembakaran bahan bakar tidak langsung diubah menjadi tenaga gerak, tetapi terlebih dulu melalui media penghantar, baru kemudian diubah menjadi tenaga mekanik. Misalnya pada ketel uap dan turbin uap.
- Mesin pembakaran dalam (internal combution engine)
Pada motor pembakaran dalam, proses pembakaran bahan bakar terjadi di dalam mesin itu sendiri, sehingga panas dari hasil pembakaran langsung bisa diubah menjadi tenaga mekanik. Misalnya : pada turbin gas, motor bakar torak dan mesin propulasi pancar gas. 

Penggolongan Berdasarkan Letak Motor dan Bahan Bakar
Berdasarkan letak motor ada tiga jenis motor penggerak yaitu : motor tempel, motor luar/warangan (outboard motor) dan motor dalam (inboard motor). Berdasarkan bahan bakarnya motor penggerak kapal ada tiga jenis yaitu : motor solar, motor bensin, dan motor minyak tanah. Pada umumnya motor tempel menggunakan bahan bakar bensin atau minyak tanah yang ditempatkan diburitan kapal, sedangkan motor luar/warangan (poros baling-baling panjang) menggunakan bahan bakar solar yang dipasang disampin kapal. Motor dalam (poros baling-baling pendek) menggunakan bahan bakar solar yang ditempatkan secara permanen yang dipasang didalam lambung kapal (Budihardjo, 2000). 

Penggolongan Berdasarkan Penggunaannya
Berdasarkan penggunaannya, motor penggerak kapal ikan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu mesin darat (stationary engine / land used) dan mesin laut (marine engine). Marine engine merupakan mesin yang yang paling baik untuk digunakan sebagai penggerak kapal ikan, karena kapal tersebut memang dirancang untuk digunakan sebagai penggerak kapal ikan, serta dirancang khusus untuk keperluan lingkungan laut dan lebih tahan korosif. Namun demikian banyak nelayan yang menggunakan land used bahkan mesin mobil sebagai penggerak, terutama dengan memodifikasi sistem pendinginnya. Alasan mereka adalah harga jauh lebih murah dibandingkan dengan marine engine. Mesin-mesin yang biasa digunakan sebagai penggerak kapal adalah mesin diesel yang bahan bakarnya berupa solar. 

Mesin pembakaran dalam sendiri secara umum terbagi menjadi dua yaitu mesin empat langkah dan mesin dua langkah sedangkan dari bahan bakarnya terbagi atas mesin diesel dan mesin otto.

Prinsip pembakaran didalam mesin pada motor bakar jenis diesel bahan bakar solar disemprotkan kedalam silinder berisi udara yang bertemperatur dan bertekanan tinggi, sehingga bahan bakar terbakar denga sendirinya atau dengan kata lain terjadi penyalaan sendiri. Gas-gas ini akan mengembang yang akan menekan dan mendorong piston bergerak kebwah. Gerak dari piston yang lurus itu diteruskan melalui batang torak keporos engkol yang merubah menjadi gerak putar motor bakar. Gerak mutar motor bakar ini disebut motor bakar model piston (E. Karyanto, 1999).

PERBEDAAN MESIN 2 TAK DENGAN 4 TAK
Berikut ini adalah perbedaan motor 2 tak dan 4 tak dilihat dari cara kerja mesin. Mesin 2 tak (2 strokes) untuk mendapatkan tenaga hasil dari pembakaran gas, hanya diperlukan 2x gerakan piston naik dan turun (1x proses) dg sekali putar kruk as.
TAK 1: proses masuknya gas, pemampatan dan pembakaran gas (piston bergerak ke atas, TMB menuju TMA).
TAK 2 : proses kerja, kompresi karter, buang dan cuci/bilas (piston bergerak ke bawah, TMA menuju TMB).

Mesin 4 tak (4 strokes) untuk mendapatkan ledakan tenaga hasil dari pembakaran gas, diperlukan 4x gerakan piston naek dan turun (2x proses) dengan 2 kali putaran kruk as dengan disertai buka tutup klep sekali.
TAK 1 : Gerak isap (piston bergerak dari TMA menuju TMB).
TAK 2 : Gerak kompresi/pemampatan (piston bergerak dari TMB menuju TMA).
TAK 3 : Gerak tenaga (piston bergerak dari TMA menuju TMB).
TAK 4 : Gerak Buang Sisa Pembakaran (piston bergerak dari TMB menuju TMA).

CARA KERJA MESIN 4 TAK
Mengapa mesin disebut 4 tak, karena memang ada 4 langkah. Berikut adalah detail dari setiap proses.
- Intake
Disebut langkah intake karena langkah pertama adalah menghisap melalui piston dari karburator. Pasokan bahan bakar tidak cukup hanya dari semprotan karburator. Cara kerjanya adalah sbb. Piston pertama kali berada di posisi atas (atau disebut Titik Mati Atas). Lalu piston menghisap bahan bakar yang sudah disetting/dicampur antara bensin dan udara di karburator. Piston lalu mundur menghisap bahan bakar. Untuk membuka, diperlukan klep atau valve inlet yang akan membuka pada saat piston turun/menghisap ke arah bawah.

Gerakan valve atau inlet diatur oleh camshaft secara mekanis. Yakni, camshaft mengatur besaran bukaan klep dengan cara menekan tuas klep. Camshaft sendiri digerakan oleh rantai keteng yang disambungkan antara camshaft ke crankshaft. Untuk detilnya, lihat gambar berikut.

Perhatikan bahwa A adalah Intake Valve (klep masuk bahan bakar) dan klep ini ditekan (membuka) karena I (camshaft) menekan valve A. Dengan demikian, pada saat piston turun, maka A terbuka sekaligus bahan bakar ditarik masuk ke ruang bakar. A akan menutup sampai batas tertentu sebelum langkah kedua: kompresi. Rantai keteng tidak terlihat karena akan sulit digambarkan di atas, tetapi crankshaft (P) terhubung dengan camshaft (I).

- Kompresi
Langkah ini adalah lanjutan dari langkah di atas. Setelah piston mencapai titik terbawah di tahapan intake, lalu valve intake tertutup, dan dilakukan proses kompresi. Yakni, bahan bakar yang sudah ada di ruang bakar dimampatkan. Ruangan sudah tertutup rapat karena kedua valve (intake dan exhaust) tertutup. Proses ini terus berjalan sampai langkah berikut yakni meledaknya busi di langkah ke 3.

- Combustion (Pembakaran)
Tahap berikut adalah busi pada titik tertentu akan meledak setelah piston bergerak mencapai titip mati atas dan mundur beberapa derajat. Jadi, busi tidak meledak pada saat piston di titik paling atas (disebut titik 0 derajat), tetapi piston mundur dulu, baru meledak. Hal ini karena untuk menghindari adanya energi yang terbuang sia-sia karena pada saat piston di titik mati atas, masih ada energi laten (yang tersimpan akibat dorongan proses kompresi). Jika pada titik 0 derajat busi meledak, bisa jadi piston mundur tetapi mengengkol crankshaft ke arah belakang (motor mundur ke belakang, bukan memutar roda ke depan).

Setelah proses pembakaran, maka piston memiliki energi untuk mendorong crankshaft yang nantinya akan dialirkan melalui gearbox dan sproket, rantai, dan terakhir ke roda.

- Exhaust (Pembuangan)
Langkah terakhir ini dilakukan setelah pembakaran. Piston akibat pembakaran akan terdorong hingga ke titik yang paling bawah, atau disebut Titik Mati Bawah. Setelah itu, piston akan mendorong ke depan dan klep exhaust membuka sementara klep intake tertutup. Oleh karena itu, maka gas buang akan terdorong masuk ke lubang Exhaust Port (atau kita bilang lubang sambungan ke knalpot). Dengan demikian, maka kita bisa membuang semua sisa gas buang akibat pembakaran. Dan setelah bersih kembali, lalu kita akan masuk lagi mengulangi langkah ke 1 lagi.

Sistem Pendinginan Udara
Suatu sistem pendingin mesin dengan media pendingin atau bahan untuk mendinginkannya menggunakan aliran udara yang dihasilkan dari hembusan kipas. Cara kerjanya yaitu udara dialirkan ke depan silinder dan silinder blok. Pada silinder blok dipasang sirip-sirip pendingin yang berfungsi untuk memperbesar luas permukaanya sehingga lebih mudah menyerap gas panas diambil langsung oleh udara melalui tiap-tiap sirip yang dipasangkan sekeliling silinder dan kepala silinder (Arends, 1994).

Sistem ini ditandai oleh adanya sirip yang dapat memperluas permukaan untuk tujuan pendinginan. Atmosfer yang menyusup diantara sirip mampu mendinginkan dinding silinder yang panas. Pada umumnya digunakan untuk mesin-mesin yang berukuran kecil dan bergerak, karena memanfaatkan angin yang menimpa motor saat motor itu bergerak (Heldt, P.M, 1956).

Menurut Daryanto (1986) keuntungaan dan kerugian sistem pendinginan udara:
Keuntungan:
-  Bobotnya ringan.
-  Konstruksinya lebih sederhana.
-  Pemeliharaan lebih mudah.
-  Tidak ada bahaya pembekuan pada cuaca dingin.
-  Lebih efektif.

Kerugian:
-  Mesin dengan pendinginan ini bekerja pada katup, lubang saluran pembuangan dan busi yang panas.
-  Memiliki proses pendinginan yang rumit.
- Sulit untuk mempertahankan pendinginan yang tepat pada kondisi yang berubah-ubah dan hampir tidak mungkin untuk mengendalikan suhu silinder sepenuhnya.

Sistem Pendinginan Air
Kerja sistem pendinginan dengan air ini adalah air dialirkan melalui dan menyelubungi dinding silinder, kepala silinder serta bagian mesin yang berada di blok mesin. Dimana dalam blok mesin tersebut terdapat saluran-saluran kecil yang berfungsi untuk aliran air yang digunakan untuk pendinginan mesin tersebut. Air pendingin akan menyerap kalor dari semua bagian mesin tersebut kemudian mengalir meninggalkan blok mesin menuju alat pendingin (radiator) yang akan menurunkan kembali temperaturnya. Dalam sistem pendingin ini terdapat saluran untuk menghubung-singkatkan thermostat dengan pompa hisap air pendingin. Apabila temperatur air pendingin di dalam blok silinder sudah mencapai suhu tertentu, termostat akan membuka saluran air ke radiator dan menutup saluran dari termostat ke lubang hisap pompa. Untuk unit stasioner, terutama untuk mesin yang berdaya tinggi, sebagai pengganti radiator digunakan menara pendingin atau kolam pendingin. Di menara pendinginan atau kolam pendingin air didinginkan secara langsung dengan udara bebas. Sistem ini disebut juga sistem pendingin air terbuka.

DATA LAPANG
Klasifikasi Mesin
Mesin land used yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Kim Dong Diesel dan klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Merk                            : Kim Dong CKD 1600 C
Maximum output        : 16 HP / 2200 rpm
Net Weight                 : 167 kg

PEMBAHASAN
Injection Nozzle
Injection nozzle terdiri atas nozzle body dan needle. Injection nozzle berfungsi untuk tempat masuk bahan bakar sebelum ke silinder dari injektor sekaligus untuk menyemprotkan dan mengabutkan bahan bakar. Antara nozzle body dan needle dikerjakan dengan presisi dengan toleransi 1/1000 mm (1/40 in). Karena itu, kedua komponen itu dalam proses penggantiannya harus secara bersama-sama.

Injection nozzle ini menerima bahan bakar bertekanan tinggi dan menginjeksikannya ke dalam ruang pembakaran. Saat tekanan bahan bakar yang dipompakan oleh pompa injeksi menjadi lebih besar daripada beban pegas tekanan, maka tenaganya mendorong jarum nozzle ke atas. Hal ini menyebabkan pegas tekanan menjadi mampat dan bahan bakar diinjeksikan ke ruang pembakaran. Tekanan injeksi dapat disetel dengan cara membedakan ketebalan shim penyetel, yang secara efektif mengubah beban pada pegas.

Secara garis besar nozzle dapat dibagi atas model lubang dan model pin. Model nozzle sangat menentukan bagi proses pembakaran dan bentuk ruang bakar. Jenis lubang umumnya digunakan untuk mesin semprotan langsung, sedangkan model pin umumnya digunakan untuk mesin yang mempunyai ruang bakar muka dan ruang bakar model pusar.

Bahan bakar dialirkan dari injection pump masuk ke nozzle hole. Ketika tekanan bahan bakar melebihi nilai yang telah ditetapkan, tekanan bahan bakar akan mengalahkan kekuatan spring dan mendorong needle valve ke atas dan menyemprotkan bahan bakar dari injection oriffice pad bagian ujung nozzle ke dalam silinder. Tekanan penginjeksian dapat disetel dengan menambah atau mengurangi jumlah washer pada spring.

Cara Kerja Injection Nozzle
Cara kerja dari injection nozzle adalah sebagai berikut :
-  Sebelum Penginjeksian
Bahan minyak bakar yang bertekanan tinggi mengalir dari pompa injeksi melalui saluran (oil passage) pada nozzle holder menuju ke oil pool pada bagian bawah nozzle body.
-  Penginjeksian Bahan Bakar
Bila tekanan bahan bakar pada oil pool naik, ini akan menekan permukaan ujung needle. Bila tekanan ini melebihi kekuatan pegas, maka nozzle needle akan terdorong ke atas dan menyebabkan nozzle menyemprotkan bahan bakar.
-  Akhir Penginjeksian
Bila pompa injeksi berhenti mengalirkan bahan bakar, tekanan bahan bakar turun, dan pressure spring mengembalikan nozzle needle ke posisi semula (menutup saluran bahan bakar). Sebagian bahan bakar yang tersisa antara nozzle needle dan nozzle body, melumasi semua komponen dan kembali ke over flow pipe.

Gangguan pada Injection Nozzle
Dibawah ini merupakan beberapa gangguan yang biasanya terjadi pada bagian-bagian injection nozzle. Pengetahuan dan perbaikan sangat dibutuhkan untuk menjaga injection nozzle tersebut dalam keadaan baik. Perbaikan yang dilakukan jika terjadi permasalahan pada salah satu bagian dalam injection nozzle diperlukan proses pemeriksaan. Proses pemeriksaan yang harus dilakukan dari masing-masing bagian dalan injection nozzle yaitu :
Needle valve macet
Apabila terjadi gangguan pada needle valve, harus dilakukan beberapa langkah pemeriksaan, yaitu :
-  Bersihkan dan rendam nozzle dengan bensin.
-  Geser needle  untuk memastikan bahwa pergerakannya cukup halus.
- Tarik vertikal ke atas needle valve sekitar1/3 langkahnya dan apakah valve tersebut terjatuh akibat beratnya sendiri.
-  Bila tidak kembali, maka injection nozzle harus diganti.
-  Valve opening pressure terlalu rendah

Hal – hal yang harus diperhatikan sebelum menguji tekanan pada nozzle adalah:
Pada saat menguji nozzle, janganlah mengarahkan pengabutan bahan bakar ke arah orang yang sedang memeriksa atau melihat proses penyetelan, akan tetapi nozzle diarahkan kebawah.
Saat terjadi pengabutan bahan bakar pada nozzle, jangan menahan lubang nozzle dengan jari tangan karena tekanan pengabutan sangat kuat. 

Sebelum mengadakan pengujian dan penyetelan injection pressure, nozzle dipasang pada nozzle tester dan dioperasikan beberapa kali untuk mengeluarkan udara yang ada dalam nozzle tester tersebut. Langkah selanjutnya yaitu:
-  Operasikan  nozzle tester dengan kecepatan yang telah ditentukan untuk mencapai standar injection pressure (180 kgf/cm2).
-  Jika injection pressure belum memenuhi standar yang dibutuhkan, maka perlu menambahkan atau mengurangi shim dalam nozzle. Perubahan ketebalan shim 0,05 mm, akan merubah injection pressure 5 kgf/cm2. Setelah memasang shim pada  nozzle, periksa kembali injection pressure pada nozzle tersebut hingga mencapai angka yang dibutuhkan.

Nozzle bocor
Setelah  nozzle terpasang pada nozzle tester, stel nozzle tester dengan tekanan yang telah ditentukan. Tekanan kemudian dinaikkan secara perlahan – lahan sampai mencapai tekanan pengujian. Setelah mencapai tekanan pengujian, periksa kebocoran bahan bakar pada ujung nozzle. Bila tidak ada kebocoran berarti nozzle dalam kondisi baik, akan tetapi kalau ada kebocoran berarti perlu diganti komponen di dalam nozzle yang mengalami kerusakan.

PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah didapatkan tentang alat tangkap payang, maka dapat diperleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :
- Mesin adalah gabungan dari alat-alat yang bergerak (dinamis) dan alat yang tidak bergerak (statis) yang bila bekerja dapat menimbulkan tenaga energi.
- Motor bakar adalah mesin atau pesawat yang menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik, yaitu dengan cara merubah energi kimia dari bahan bakar menjadi energi panas, dan menggunakan energi tersebut untuk melakukan kerja mekanik.
- Pembagian motor bakar ditinjau dari proses pembakaran energinya dibagi menjadi dua yaitu mesin pembakaran luar (external combution engine) dan mesin pembakaran dalam (internal combution engine).
- Berdasarkan letak motor ada tiga jenis motor penggerak yaitu : motor tempel, motor luar/warangan (outboard motor) dan motor dalam (inboard motor).
- Berdasarkan penggunaannya, motor penggerak kapal ikan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu mesin darat (stationary engine / land used) dan mesin laut (marine engine).
- Cara kerja mesin 4 adalah yang pertama langkah intake (pemasukan), langkah kompresi, langkah combustion (pembakaran) dan yang terakhir adalah langkah exhaust (pengeluaran).
- Mesin land used yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Kim Dong Diesel CKD 1066 C dengan maximum output 16 HP/200 rpm dan net weight-nya 167 kg.
- Injection nozzle terdiri atas nozzle body dan needle. Injection nozzle berfungsi untuk tempat masuk bahan bakar sebelum ke silinder dari injektor atau menyemprotkan dan mengabutkan bahan bakar
- Gangguan yang biasa ditemui pada injection nozzle adalah needle valve macet, valve opening pressure yang terlalu tinggi dan nozzle bocor.

Saran
Dalam praktikum mesin kapal perikanan diharapkan mahasiswa lebih memperhatikan penjelasan dosen serta tidak bergurau saat praktikum agar dapat lebih mengerti tentang mesin, khususnya mesin diesel merk Kim Dong yang menjadi objek praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous-a. 2010. Prinsip Kerja Sistem Bahan Bakar Diesel. http://www.m-edukasi.net/online.htm.
Anonymous-b. 2010. Nozzle Injection. http://knibalu.blogspot.com/2009/10 /nozzle-injection.html.
Budihardjo. 2000. Mesin Diesel Untuk Kapal Ikan. Makalah pada Seminar Alat Penangkapan Ikan Skala Kecil dengan Alat Bantunya, 2-3 April 2002.
Daryanto. 1992. Teknik Otomotif . Bumi Aksara. Bandung.
Karyanto, E. 1999. Panduan Reparasi Mesin Diesel Dasar Operasi Service. Pedoman Ilmu Jaya. Jakarta.
Okasatria Novyanto. 2010. Mengenal Motor Bakar. http://www.scribd.com/ mengenal-motor-bakar.html.
Priyanto. 2007. Jurnal Analisis Gangguan Sistem Injeksi Bahan Bakar Mesin. Diesel Hyundai FE 120 PS dan Cara Mengatasinya. Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Sartimbul, Aida M. 2001. Mesin Kapal Perikanan. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Wiranto, A dan Koichi Tsuda. 1997. Edisi Ke-7 Motor Diesel Putaran Tinggi. Pradnya Paramitha. Jakarta.

Popular Posts

Followers