Pages

Welcome in MY BLOG....!!Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat ^_^.

Jumat, 16 Maret 2012

RESPON IKAN TERHADAP PERUBAHAN SUHU

Ikan Nila merupakan jenis ikan konsumsi pada air tawar dengan bentuk memanjang dan pipih ke samping dan warna putih kehitaman. Ikan Nila berasal dari sungai Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik. Ikan Nila disukai oleh berbagai bangsa, karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap merah. Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur Jenderal Perikanan.

Hewan air akan memberikan respon fisiologis terhadap perubahan lingkungannya sebagai tempat hidupnya. Perubahan suhu dari keadaan normal menjadi lebih panas atau lebih dingin di suatu perairan dapat dipengaruhi oleh keadaan alam seperti pemanasan oleh matahari, perubahan musim, gejala pergeseran  dasar perairan, letusan gunung merapi bawah laut dan sebagainya. Setiap jenis ikan biasanya mempunyai kisaran suhu  di perairan yang cocok . Dalam keadaan suhu normal tingkah laku ikan akan berjalan dengan normal juga. Namun bila terjadi perubahan suhu, respon yang diberikan oleh ikan akan menunjukkan penyesuaian metabolisme tubuhnya terhadap lingkungan untuk mempertahankan kehidupannya. Respon yang diperlihatkan oleh ikan biasanya berupa perubahan tingkah laku meupun pergerakan ikan.

Klasifikasi dan Morfologi Ikan
Klasifikasi Ikan Nila adalah sebagai berikut :
Kelas : Osteichtyes
Sub Kelas : Achantoptherigii
Sub Ordo : Pecoidea
Famili : Cichildae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Ikan Nila adalah konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika pada tahun 1969 dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar dan di beberapa waduk di Indonesia. Nama ilmiah pada ikan Nila adalah Oreochromis niloticus dan di dalam bahasa Inggris ikan ini dikenal dengan sebutan Nile Tilapia. Keramba jala apung untuk memelihara Ikan Nila di Ranu Pakis, Klakan, Lumajang. Ikan pemeliharaan yang berukura sedang, panjang total (moncong hingga ekor) mencapai sekitar 30 cm. Sirip punggung (dorsal) dengan 16-17 (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak) dan sirip dubur (anal) dengan 3 duri dan 8-11 cm jari-jari Ikan Nila termasuk kelompok ikan tilapial.

Awalnya ikan Nila dimasukkan ke dalam jenis Tilapia nilotica ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva didalam mulut induknya. Berdasarkan morfologinya, kelompok ikan Oreochromis ini memang berada dengan kelompok tilapia. Secara umum, bentuk tubuh ikan Nila panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol dan bagian tepinya berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus di tengah badan kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah dari pada letak garis memanjang di atas sirip dada. Sirip punggung, sirip perut dan sirip dubur mempunyai jari-jari lemah tetapi keras dan tajam.

Tingkah Laku Umum dan Khusus Ikan Nila
Secara keseluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air, artinya suhu tubuh sangat tergantung atas suhu lingkungan. Selanjutnya, bahwa beberapa ikan mempunyai perilaku istimewa seperti ikan gelodok yang dapat berjalan diatas daratan dan memanjat pohon.
Respon yang diperlihatkan oleh ikan biasanya berupa perubahan tingkah laku meupun pergerakan ikan. Suhu adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di perairan, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat ovryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoferm. Sebagai contoh ikan di daerah kutub dan sub kutub mampu mentolerir suhu rendah, sedangkan ikan yang di daerah tropis menyukai suhu yang hangat.

Sistem Syaraf dan Sistem Endokrin
Sistem endokrin disusun oleh kelenjar-kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin mensekresikan senyawa kimia yang disebut hormon. Hormon merupakan senyawa protein atau senyawa steroid yang mengatur kerja proses fisiologis tubuh. Hormon bekerja sama dengan sistem syaraf untuk mengatur pertumbuhan dan tingkah laku keseimbangan internal, reproduksi dan tingkah laku. Kedua sistem tersebut mengaktifkan sel untuk berinteraksi satu dengan lainnya menggunakan messanger kimia. Kelenjar endokrin menggunakan messanger kimia yaitu hormon yang diedarkan oleh sistem transportasi (darah), dan mempengaruhi sel target yang ada diseluruh tubuh. Kerja sistem endokrin lebih lambat dibandingkan dengan sistem syaraf, sebab untuk mencapai sel target hormon harus mengikuti aliran sistem transportasi.
Otak ikan dibagi menjadi beberapa daerah. Didepan adalah lobus penciuman, sepasang struktur yang menerima dan memproses sinyal dari lubang hidung melalui dua syaraf penciuman. Lobus penciuman yang sangat besar dalam ikan yang berburu terutama oleh bau, dibalik kuping pencium adalah dua loben telenchepalon setara struktural yang bersangkutan kebanyakan dengan penciuman.

Kecepatan Renang Ikan
Secara vertikal semakin bertambahnya kedalaman menyebabkan suhu menurun dan salinitas meningkat, sedangkan kecepatan renang ikan semakin tinggi dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini diduga bahwa menurunnya suhu dan meningkatnya salinitas juga  mempengaruhi tingginya kecepatan renang ikan yang terdeteksi. Pola sebaran suhu, salinitas dan arus secara horisontal tidak terlihat berpengaruh terhadap pola sebaran kecepatan dan arah renang ikan. Hal ini dikarenakan pola sebaran kecepatan dan arah renang ikan secara horisontal tidak memiliki pola tertentu, sedangkan suhu cenderung tinggi di daerah dalam teluk dan salinitas cenderung tinggi di wilayah selatan daerah survei.
Faktor yang mempengaruhi kecepatan renang antara lain:
- Pola renang ikan. Saat ikan berenang, terjadi pergerakan pada bagian tubuh baik keseluruhan anggota badan ataupun hanya bagian tertentu, misal sirip.
- Amplitudo pergerakan sirip atau tubuh. Daya dorong ikan yang sebenarnya diperoleh dari pergerakan sirip atau tubuh dengan amplitude yang besar.
- Gerak maju melengkung (Path Curpature). Gerak maju melengkung dari jalur renang mungkin mengakibatkan penurunan kecepatan renang jika dibandingkan dengan lurus.
- Frekuensi kibasan ekor, dipengaruhi waktu kontraksi dari otot putih.
-Stride lenght. Jarak yang ditempuh dalam satu kali kibasan ekor.
- Ketahanan renang, hubungan kecepatan dari ketahanan yang renang berbanding terbalik. Bila kecepatan renang meningkat maka ketahanan menurun. Akan tetapi pada kecepatan yang sama, ikan yang lebih besar dapat bertahan lebih lama dibandingkan yang kecil.

Stress Ikan
a. Pengertian Stress pada Ikan
Stress yang terjadi pada ikan berkaitan dengan timbulnya penyakit pada ikan tersebut. Stress merupakan suatu rangsangan yang merupakan atau menaikkan batas keseimbangan psikologi dalam diri ikan terhadap lingkungan. Biasanya stress pada ikan diakibatkan perubahan lingkungan akibat beberapa hal atau perlakuan misalnya akibat pengangkutan atau transportan ikan-ikan yang dimasukkan kedalam jaring apung dilaut dari tempat pengangkutan biasanya akan mengalami kelemahan daya tahan terhadap penyakit.
Stress dapat digambarkan sebagi respon fisiologis untuk stresser. Dengan kata lain, stress adalah kondisi fisiologis internal yang disebabkan oleh kondisi eksternal. Stress juga dapat digambarkan sebagai respon hormonal internal dan sebuah organisme hidup yang disebabkan oleh lingkungan atau faktor eksternal lainnya yang menyebabkan kondisi fisiologis organisme dalam kondisi yang tidak normal. Stress dapat mengganggu keseimbangan fisiologis ikan atau homestatis dengan mempercepat aliran energi dalam sistem.

b. Penyebab Stress Ikan
Semua perubahan pada lingkungan dianggap sebagai penyebab stress pada ikan dan untuk itu diperlukan adanya adaptasi dari ikan. Beberapa faktor  stress misalnya suhu air dan salinitas, bisa menyebabkan meningkatnya metabolisme ikan bila ikan dipindahkan dari air tawar yang salinitasnya 0 ppt ke tambak atau laut yang salinitasnya diatas 20 ppt tidak secara terhadap maka ikan akan mengalami kesulitan beradaptasi. Faktor lain misalnya transportasi.

Stress pada ikan bisa disebabkan oleh faktor lingkungan (pH, tinggi amoniak), rendahnya DO dsb, kepadatan, penanganan dan lain-lain. Salah satu pendekatannya yang bisa dilihat pada tubuh ikan stress adalah perubahan turun naiknya kadar glukosa darah sehingga menurunkan nafsu makan ikan tersebut. Mekanisme terjadinya perubahan kadar glukosa darah selama stress dimulai dan diterimanya informasi penyebab faktor stress oleh organ reseptor. Selanjutnya informasi tersebut ke otak bagian hipotalamus melalui system syaraf.

c. Efek Stress Ikan
Naik turunnya kadar glukosa pada ikan mengindentifikasi bahwa ikan tersebut lapar atau kenyang pada saat itu stress kadar glukosa terus naik untuk mengatasi nomestatis terhadap perubahan fisiologis. Hiperglesimia akan berakibat bentuk pada ikan. Ini berawal dari naiknya kadar kalisor dalam darah akibat stress yang akan melebihkan glukosa dari cadangan yang disimpan oleh tubuh kedalam darah.
Akibat dari stress pada ikan dapat menyebabkan perubahan makroskopis yaitu hemorhagik pada kulit, kangesti dan pendarahan, kronts, escites akan menyerang dan adanya infeksi. Sedangkan pada perubahan mikroskopis yaitu kulit dan jaringan hemopoitik, hiperemi pada kulit dan lain-lain.

Hubungan Stress Ikan dengan Penangkapan
Laut yang menghangat membuat pertumbuhan ikan terhambat. Parahnya hal ini bisa meningkatkan stress bahkan resiko kematian ikan. Apabila pertumbuhan ikan melambat tentunya dapat berpengaruh terhadap hasil tangkapan.

PENCIUMAN IKAN

Ikan Piranha ini terkenal sangat ganas, agresif dan pemakan daging. Banyak terdapat di sepanjang sungai amazone. Kebanyakan mengalir dalam batang sungai itu sepanjang daerah Brazilia dan Venezuela. Banyak jenisnya. Yang paling agresif ialah berukuran sedang. Rata-rata beratnya antara 600 sampai 700 gram. Ada yang satu kg tetapi jarang. Bahkan ada yang besar dan beratnya sampai 5 kg. Tetapi yang paling terkenal ganas dan agresif adalah yang berbadan sedang 600 sampai 700 gram itu (Putri, 2009).

Penggunaan umpan pada alat tangkap dalam operasi penangkapan ikan berfungsi sebagai pikatan atau stimulasi ikan dengan tujuan untuk meningkatkan afektivitas penangkapan. Studi respon tingkah laku ikan khususnya pada fungsi organ penciuman memiliki peranan penting untuk mengetahui efektivitas umpan (Riyanto et al, 2010).

Klasifikasi dan Morfologi Ikan
Klsifikasi Ikan Piranha (Pyghocentrus nattereri) menurut Uplix (2011), yaitu:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actino pterygii
Ordo : Characi formes
Famili : Serrasaimidae
Spesies : Pyghocentrus nattereri

Piranha merah adalah salah satu spesies dari keluarga piranha. Piranha merah hidup di lembah sungai mazon, sungai dibagian pantai timur laut brazil dan lembah sungai Paraguai. Piranha dan Essequibo. Piranha merah memiliki reputasi sebagai ikan air tawar yang paling ditakuti di dunia. Piranha merah memiliki serangkai gigi yang tajam seperti silet yang mampu menguliti daging mangsa atau bangkai hewan. Seperti namanya, Piranha Merah memiliki perut yang berwarna merah ketika dewasa, sementara Piranha Merah yang masih kecil berwarna keperakan dengan bintik-bintik gelap. Piranha merah dapat tumbuh hingga 33 cm dengan berat 3,5 kg (Afif, 2011).

Memiliki gigi runcing dan tajam. Ada kemiripan dengan gigi ikan hiu (cucut). Badan bagian bawahnya sepanjang perutnya berwarna merah dan ada yang berjenis bermata merah. Piranha bentuknya anggun, gagah, kukuh. Sedikit seperti ikan bawal atau ikan dorade atau ikan bulat (Ikan Hias, 2009).

Tingkah Laku Ikan Piranha
a. Tingkah Laku Umum Ikan Piranha
Ikan piranha adalah ikan yang paling ganas di dunia. Bahkan ikan yang paling tangguh, hiu atau barakuda, biasanya menyerang hal-hal kecil dari diri mereka sendiri. Namun serangan piranha terbiasa hal yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri. Meraka akan snap jari dari tangan incautioudy tertinggal di dalam air mereka mencingcang perenang di setiap kota sungai Paraguay ada orang yang telah dimutilasi dengan demikian, mereka akan mengoyakkan dan melahap hidup setiap orang yang terluka atau binatang karena di dalam air membuat ikan ini semakin agresif (Pobersonai, 2011).

Ikan piranha ini termasuk jenis agresif dan ganas ini biasanya bergerombolan banyak dan apabila sudah mendapatkan mangsa semakin banyak berkumpul tampak seperti gumpalan ikan sarden atau ikan teri menghitam (Uplix, 2007).

b. Tingkah Laku Khusus Ikan Piranha
Ada beberapa yang sebenarnya menyebabkan kebuasan pada piranha, diantaranya fluktuasi temperatur air, keadaan sifat kimia air, masa perkawinan dan ketersediaan makanan yang cukup adalah hal yang merupakan hal yang penting bagi ikan piranha. Agar ia tenang sebaiknya faktor-faktor yanh tersedia jangan ada yang mengganggu. Apabila dalam perairan ada binatang yang terluka, piranha mempunyai indra penciuman yang sangat tajam sehingga dapat dengan mudah mengetahuinya. Bau darah ini merangsang ikan ini untuk bertindak gila-gilaan, mereka memburu asal bau tersebut. Hal inilah yang menentukan bahwa piranha benar-benar buas dan rakus (Julian, 2011).

Piranha memiliki indera penciuman yang baik. Indera penciumannya mirip hiu yang dapat mencium bau darah dari jarak jauh. Namun ada ahli yang berpendapat Piranha dapat menemukan mangsa berdasarkan suara "keripak" dari mangsa yang berada di air (Gudang Materi, 2010).

Organ Penciuman Ikan
Telenchepalon adalah otak bagian depan yang merupakan pusat dari hal-hal yang berhubungan dengan pembauan. Saraf utama yang keluar dari daerah ini ialah saraf olfactory (saraf cranal I) yang berhubungan dengan hidung sebagi penerima rangsang. Pada ikan-ikan yang menggunakan hidung dalam pembauan mencari mangsanya otak bagian depan akan lebih berkembang. Pengrusakan telenchepalon akan menimbulkan beberapa gejala yang tidak normal.

Ikan memiliki indera pencium yang berkembangbiak. Beberapa jenis ikan memiliki antena, misalnya ikan lele. Telinganya tidak berkembang. Keistimewaan ikan adalah mempunyai gurat sisi yang terletak disisi kiri dan kanan tubuhnya, biasanya warna  gurat sisi berbeda dari warna sisik. Di dalam gurat sisi terdapat urat (Marzuki, 2011).

Fungsi Allomon dan Feromon
Feromon (pheromone) berasal dari bahsa latin pherein yang artinya memindahkan dan hormon yang artinya mencetuskan. Sekilas feromon mempunyai bunyi yang sama dengan hormon, untuk menekankan arti bahwa feromon memang mempunyai beberapa kemiripan dengan hormon. Feromon bersifat seperti laiknya hormon bersifat spesifik dan aktif dalam hitungan menit. Definisi feromon adalah senyawa yang diekskresikan oleh satu individu dan diterima oleh individu lain pada spesies yang sama, dimana mereka akan memberikan reaksi yang spesifik, seperti misalnya perubahan perilaku atau proses perkembangan dan pertumbuhan (Chemistry, 2011).

Allomon adalah suatu senyawa kimia atau campuran senyawa kimia yang dilepas oleh suatu organisme dan menimbulkan respon pada individu spesies lain. Organisme pelepas memperoleh keuntungan, sedang penerimanya dirugikan (Chemistry, 2011).

Organ indera lain yang juga sangat penting adalah pembau dan pengecap. Kedua organ ini merupakan reseptor kimia. Sinyal kimia (allomon dan feromon) digunakan sebagai alat komunikasi yang selanjutnya mempengaruhi pada tingkah laku ikan dan reproduksi ikan. Bahan-bahan kimia penting lainnya yang mempengaruhi nafsu makan pada ikan antara lain: asam amino dan nukleotida (Hepuralto, 2011).

Umpan
Umpan udang digunakan dua macam cara, yakni udang kupas dan udang segar yang hidup. Dua-duanya memiliki target sasaran tersendiri sehingga dengan membawa umpan hidup bisa mencari berbagai macam ikan. Umpan udang hidup biasanya dijual di pasar-pasar ikan tradisional yang menjual ikan segar dalam kondisi lama dapat disimpan dalam kotak sterofoam yang berisi es batu (Bobby, 2010).
Penggunaan umpan sebagai pikatan (atractor) dalam penangkapan pada umumnya dikaitkan dengan jenis dan lama waktu perendaman umpan. Jenis umpan sangat ditentukan oleh kebiasaan makan ikan. Perendaman umpan dengan kurun waktu tertentu menentukan kelayakannya terhadap ikan sasaran tangkapan, yaitu apabila dapat merangsang secara kimiawi dan apabila tekstur umapan tidak pudar sehingga panangkapan menjadi lebih efektif dan efisien (Dian, 2007).

Kaitan Respon Penciuman dengan Penangkapan
Prisip tingkah laku ikan yang menjadi sasaran tangkapan harus didukung oleh pemahaman terhadap indera utama dari ikan (sensory organ) khususnya indera penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, linea lateralis dan lain sebagainya. Indera tersebut merupakan indera penting ikan berhubungan dengan tingkah laku alam (natural behaviour). Keberhasilan usaha penangkapan ikan dapat ditingkatkan salah satunya dengan mengetahui tingkah laku ikan yang menjadi sasaran tangkapan (Dian, 2007).

Metode yang dapat digunakan untuk analisis penciuman ikan, yaitu metode tingkah laku ikan. Scanning Electro Micrigraph (SEM) dan fotografi grafimetri. Metode tingkah laku ikan bertujuan untuk menganalisis respon tingkah laku ikan mendekati umpan dilakukan secara deskriptif dan hasil rekaman timgkah laku ikan. Metode SEM dilakukan untuk mengetahui bentuk olfactory lamella ikan tergantung spesiesnya. Sedangkan metode fotografi gravimetri melalui pengamatan rasio berat setiap bagian otak yang mampu mengindentifikasi organ penciuman ikan sebagi organ dominan atau tidak dalam melakukan efektivitasnya (Purbayanto, 2010).

Kamis, 15 Maret 2012

RESPON PENGLIHATAN IKAN TERHADAP PERBEDAAN WARNA (Optical Stimuli)

Ikan sebagaimana jenis hewan lainnya mempunyai kemampuan untuk dapat melihat pada waktu siang hari yang berkekuatan penerangan beberapa ribu luk hingga pada keadaan yang hampir gelap sekalipun. Struktur retina maka ikan yang berisi reseptor dan indera penglihatan sangat bervariasi untuk jenis ikan yang berbeda (Fiqrin, 2011).

Cahaya merupakan salah satu faktor yang diperlukan dalam prose fotosintesis. Dan cahaya dengan segala aspek yang dikandungnya seperti intensitas dan panjang gelombang akan mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap pergerakan atau tingkah laku ikan (Fiswan,2011).

Klasifikasi dan Morfologi Ikan
Menurut Ikan Marah Wordpress (2007), klasifikasi Ikan Neon Tetra, yaitu:
Kerajaan : Charaam
Ordo : Charaa Farmes
Famili : Charaadae
Genus : Paracherdon
Spesies : Paracherdon innesi

Ikan Neon Tetra bersifat omnivora. Warnanya yang cerah membuat jenis ikan ini dapat terlihat padan perairan sungai pedalaman yang gelap dan hal ini merupakan salah satu sebab populernya  jenis ini sebagai ikan hias. Neon Tetra memiliki warna yang cerah, terdapat garis horisontal berwarna biru hijau sepanjang kedua sisi ikan mulai dari hidung hingga bagian depan posterior bawah tubuh (Ifhfishing, 2011).
Habitat asli ikan ini ada di sungai amazon di daerah dekat perbatasan Peru. Tergolong ikan omnivora. Warna tubuhnya sangat cantik dan bercahaya. Punggungnya hijau lembut dengan sirip biru terang sepanjang tubuhnya. Perutnya putih dan antara pangkal ekor ketat berwarna merah menyala. Siripnya transparan, tidak berwarna, ukuran tubuh maksimal 3 cm. Pada ikan jantan terdapat garis biru lurus di badannya. Pada ikan betina terdapat garis biru bengkok di badannya (Harys Desvian, 2010).

Fototaksis
a. Pengertian Fototaksis
Fototaksis adalah gerak taksis yang disebabkan oleh adanya rangsangan berupa cahaya. Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan dan rangsangan melalui otak. Peristiwa tertariknya  ikan pada cahaya disebut fototaksis. Dengan demikian ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis, yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal, sedangkan ikan-ikan yang tertarik oleh cahaya atau menjauhi cahaya biasa disebut fotophobi (Ardiwilaga, 2010).

Fototaksis adalah gerakan-gerakan jasad hidup yang merupakan respon terhadap cahaya. Gerakan ini dapat menjauhi cahaya (fototaksis negative) dan mendekati cahaya (fototaksis positive) atau tidak bereaksi (fototaksis netral) (Zenyfapussy, 2010).

b. Macam-macam Fototaksis
Fototaksis Positif
Hewan diurnal cenderung bersifat fototaksis positif. Bagi hewan diurnal cenderung bersifat fototaksis positif. Bagi hewan diurnal intensitas cahaya yang kuat akan memberikan reaksi yang sebaliknya, mereka akan melakukan berbagai aktifitas (Ardiwilaga, 2010).

Terdapat juga Ichtyoplankton yang bermigrasi secara harian kearah permukaan pada siang hari dan masuk ke lapisan yang lebih dalam pada malam hari dimana hal ini merupakan suatu pengecualian yang bersifat fototaksis fototaksis positif (Ardi, 2010).

Fototaksis Negatif
Umumnya hewan nokturnal bersifat fototaksis negatif, sedangkan hewan diurnal cenderung bersifat positif. Dengan kata lain bahwa ikan hwan nokturnal pada intensitas cahaya yang maksimum akan dirangsang untuk melakukan gerakan mencari perlindungan (Ardi, 2010).

Ikan mungkin bersifat fototaksis negatif berarti menanggapi cahaya kebanyakan ikan komersial bersifat positif. Ikan-ikan laut yang bersifat fototaksis negatif adalah antara lain ikan code (Zeny, 2010).

Kaitan Cahaya dengan Proses Penangkapan
Metode akustik melalui penangkapan sonar atau echosounder dapat digunakan untuk study tingkah laku ikan (migrasi vertikal dan horisontal), keceapatan renang, respon ikan terhadap stimuli dan lain-lain (Muhammad Sulaiman, 2006).

Pergerakan ikan cenderung memutar mengitari sumber pencahayaan dan kadang-kadang bergerak menjauhi kemudian mendekati lagi. Ketika hauling (hanya lampu fokus menyala). Kawanan ikan sudah memiliki pola yang teratur sekitar waring mendekati lagi. Badan tepat dibawah rangka bagan. Pola penyebaran kawanan teri berada dibawah rangka bagan. Ikan kembung dan tembang berada di sekitar bingkai bagan, pola distribusi ikan membentuk pola spherical. Pola pergerakan ikan diluar daerah pencahayaan membentuk pola tersusun secara vertikal seperti pita (ribbon). Ikan-ikan kawanan kecil cenderung mempunyai pergerakan cepat, dan menurun kecepatannya di sekitar pencahayaan akibat padatnya kawanan dan aktifitas makan (Saleh, 2010).

Rabu, 14 Maret 2012

IKAN HIAS

Ikan Cupang (Betta spienciens)

Menurut Perkasa dan Paiman (2002), cupang merupakan salah satu ikan dari keluarga Anabantidae bermarga betta yang sangat berprospek. Menurut beberapa literatur, nama cupang dimiliki oleh marga Trichopsis pumillus (cupang biru) dan Trichophis scalerri (cupang hijau). Namun, di era 60an cupang dengan marga Trichopis tersebut kalah pamor dari cupang marga Betta yang dikenal sebagai ikan laga. Hingga sekarang pun ikan marga Betta ini menjadi semakin populer. Untuk mengenal lebih dekat tetang cupang, ada baiknya diketahui dulu klasifikasinya.
Filum : Chordata
Subfilum : Cranelia
Kelas : Osteichyes
Sub kelas : Adinopterygii
Super ordo : Teleostei
Ordo : Percomophodia
Famili : Anabantidae
Genus : Betta
Spesies : Betta spienciens
Cupang berasal dari perairan-perairan disekitar thailand dan Malaysia. Ia bukan asli Indonesia. Cupang sendiri mulai populer pada 1960-an. Ia akrab disebut siamese fighting fish alias cupang siam lintasan kekar berwarna hitam legam bersirip pendek dan kaku. Itulah cekal-cekal cupang hias (Trabus, 2002).

Ikan Molly


Menurut pendapat Bayu (2010), klasifikasi ikan Black Molly secara lengkap adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Class : Osrheichtyes
Ordo : Cyprinodonterdai
Family : Phoechidae
Genus : Poecilia
Spesies : Poecilia sphenaps
Molly dapat dikembangbiakkan kerena mempunyai daya tahan tubuh yang cukup kuat terhadap berbagai kondisi lingkungan yang berbeda-beda sehingga cocok bagi pemula. Sekujur tubuhnya termasuk seluruh sirip. Siripnya berwarna hitam, bentuk tubuhnya persis platy vaniatus. Bagian perut terutama betina membulat, sirip ekornya juga membulat seperti bentuk sebuah kipas (Delami, 2001).

IKAN GUPPY


Menurut Sragen (2009), klasifikasi dari ikan Guppy adalah:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinodontiformes
Famili : Poecillidae
Genus : Poeilia
Spesies : P. rectulata
Berdasarkan pendapat Daelami (2001), mudah dikawinkan sepanjang tahun tanpa mengenal musim dan tidak memerlukan perlakuan khusus tetapi sangat peka terhadap perubahan air secara mendadak, terutama suhu, daya tarik yang sangat kuat adalah sirip ekornya yang lebih besar dan lebih lebar dari badannya sehingga penampilannya sangat unik. Pertumbuhan maksimal yan dicapai ikan betina 7 cm, sedangkan ikan jantan 3,75 cm.

IKAN PLATY PEDANG


Menurut Zipecode (2010), klasifikasi platy pedang antara lain:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Osteichtyes
Sub kelas : Achnoptyrygii
Ordo : Cypinodonitifames
Family : Poecilidae
Genus : Xiphophorus
Specific name : Macuates
Scientific name : Xiphophorus maculatos
Pada tubuh modifikan dalam bentuk dan ukuran dan berbagai sirip terjadi antara kedua jenis kelamin. Tambahan dengan berbagai warna tubuh, sejumlah variasi sirip (misalnya hi-sirip lytctai atau kombinasi keduanya) telah dikembangkan (Tamara dkk, 2001).
Menurut Gaaza (2009), platy berada  di sungai-sungai di Amerika Tengah. Ikan ini mempunyai warna yang indah dan beragam varietas. Varietas yang umum adalah Scerdtail, Highfin, Mickey mouse, Tutedo dan Radweg. Ikan ini mudah dipelihara dan sangat lemah. Tara-rata ikan ini berukuran 5 cm dan platy betina berukuran lebih besar dari pada yang jantan. Platy ekor pedang (Xiphorus xiphidum) variasi warna-warna utama berupa merah dan jingga ditemukan pada jenis highfin.

Semoga bermanfaat ^_^

SEKSUALITAS PADA IKAN

Pada prinsipnya seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina  begitu pula seksualitas pada ikan. Yang dikatakan ikan jantan adalah iak yang mempunyai organ penghasil sperma, sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur suatu populasi terdiri dari ikan. Ikan berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut Monoseksual. Namun penentuan seksualitas ikan disuatu perairan harus berhati-hati karena secara keseluruhan terdapat macam-macam seksualitas ikan mulai dari hermaprodit, sinkroni, protandi hingga genokorisme yang berdiferensiasi maupun yang tidak berdiferensiasi (Arizom, 2006).

Pengertian Seksualitas

Menurut Arizom (2006), pada prinsipnya seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina, begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma.
Sebagian besar spesies ikan adalah Genokoristik, dimana sepanjang hidupnya memiliki jenis kelamin yang sama  selain gonokoristik juga dikenal dengan istilah hemaprodit yaitu di dalam tubuh individu ditemukan dua jenis gonad (Fujaya, 2005).

Sifat Seksualitas

Menurut Wahyuningsih dan Termala (2006), sifat seksualitas terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Sifat Seksualitas Primer
Pada ikan ditandai dengan adanya organ yang berhubungan secara langsung dengan proses reproduksi yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan.
2. Sifat Seksualitas Sekunder
Adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual di morfisme. Namun apabila ada satu spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina. Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibuka menajadi dua yaitu : (1) Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara hanya muncul pada waktu musim pemijahan saja misalnya "bripositor" yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur ke balvavia, adanya semacam jerawat diatas kepalanya pada waktu musim pemijahan. Contohny Ikan Nocomis biguttatus dan Semoticus atromaculatus jantan. (2) Sifat seksual sekunder yang bersifat permanen atau tetap, yaitu tanda pembulatan hitam yaitu tanda ini ada sebelum dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda pembulatan hitam pada ekor ikan Amla carlua jantan, gonadium pada gambar usia affinis, dasper pada ikan golongan elasmobrachia, warna yang lebih menyala pada ikan lebister, beta dan ikan-ikan karang. Biasanya tanda seksual itu terdapat positif pada ikan jantan saja, apabila tanda seksual menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan suatu perubahan.

Menurut Asep (2009), sifat seksualitas primer dan sekunder adalah sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yakni ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testes dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Tanpa melihat tanda-tanda lain pada ikan akan sukar mengetahui organ seksual primernya. Sifat seksual sekunder pada ikan adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina.

Macam-macam Seksualitas

Hermaproditisme terjadi secara luas diseluruh kerajaan binatang mungkin murni fenotipik. Pada beberapa spesies individuals berisi fungsi indung telur dan testis secara bersamaan, sedangkan pada spesies lain status fictional dari gonad dapat berubah. Sering gonad dimulai dari testis untuk memproduksi spermatozoa dan kemudian dalam kehidupan  dan swittches individu untuk memproduksi telur, pula yang dikenal sebagai hermaproditisme protandic. Contoh dari protoginic (pertama-fimale), hermaproditisme juga dukenal. Pembalikan seks mungkin dapat lingkungan determinad (Gordon et al, 1990).

Menurut Frans (2011), macam seksualitas adalah sebagia berikut:
*Hermaproditisme
1. Hermaprodit Sinkroni
    - gonad masak bersam-sama > serranidae
    - pembuatan sendiri atau tidak
    - gonad terpisah jadi dua bagian
    - di alam atau aquarium dapat memijah
2. Hermaprodit Protandri
    - proses diferensiasi
    - ikan tua, tesis tereduksi
    - transisi > betina
3. Hermaprodit Protogini
    - proses diferensiasi dan fase betina menjadi jantan
    - sesudah ikan pemijahan, ovarium mengkerut
    - masa juvenil > masa betina > masa interseks > masa jantan
4. Hermaprodit Beriring
    - hermaprodit protogini dan hermaprodit protoandri

Perbedaan Jenis Kelamin Berdasarkan Ciri Seksualitas Primer dan Sekunder

- Perbedaan Jenis Kelamin Berdasarkan Ciri Seksualitas Primer
Berdasarkan pendapat dari Paberson (2011), sifat seksual primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan denga proses produksi, yaitu ivarium dan pembuluhnya pada ikan betina dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan.
Ciri seksual primer:
1. Alat atau organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi
2. Testis dan salurannya pada ikan jantan
3. Ovarium pada salurannya pada ikan betina

Perbedaan kelamin jantan dan betina yang primer terdapat pada tubuh ikan yaitu berupa testis dan saluran-salurannya  pada ikan jantan dan ovarium serta saluran-salurannya pada ikan betina. Untuk menyatakan hal ini harus disection (bedah) (Sutini, 1983).

Sifat seksualitas primer pada ikan ditandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Yakni ovarium dan pembuluhnya pada ikan jantan. Tanpa melihat tanda-tanda lain pada ikan akan sukar mengetahui organ seksual primernya (Asep, 2009).

- Perbedaan Jenis Kelamin Berdasarkan Ciri Seksualitas Sekunder
Menurut pendapat Paberson (2011), sifat seksual sekunder adalah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme. Namun apabila spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina.
Ciri seksual sekunder:
1. Tidak berhubungan dengan kegiatan reproduksi
2. Alat bantu pemijahan

Pada macam hewan yang kita kenal, setiap individu mempunyai ovarium saja tidak ada keduanya. Jika hewan mempunyai ovarium, maka hewan itu betina. Sebaliknya, jika hewan mempunyai testis, hewan tadi adalah jantan. Perbedaan dari gonad inilah kerap kali kita dapat dilihat perbedaan ciri-ciri lainnya, yaitu ciri-ciri seks sekunder. Ciri-ciri seks sekunder ini mungkin terlihat dari perbedaan wujud atau dari perbedaan tingkah laku. Sebaliknya, pada beberapa hewan perbedaan seks hanya terletak dalam gonadnya (Soemarto, 1980).

Tanda-tanda kelamin sekunder ada dua macam, yang pertama tidak ada hubungan dengan alat kelamin primer, sedang yang kedua alat kelamin tersebut merupakan sambungan (Accessora) sebagai alat perkembangbiakan. Nampak adanya pada jenis ikan cucut pari (Flasmobranchi). Ikan cucut jantan mengalami perubahan pada sirip lambungnya (pevictim). Jari-jari pertama pada sirip tersebut tumbuh membesar dan molekul membentuk pipa yang disebut (Myxopterygium), sebagai sarana menjamin terjadi pembuahan secara internal. Alat sekunder yang lain nampak jenis ikan Ganbusia affinis atau ikan minnow yang beranak mengalami modifikasi untuk adaptasi dengan cara perkawinannya ialah terjadi pembesaran pada jenis-jenisketiga dari sirip dubur (anal fin)  berkembang menjadi gonadium yaitu alat-alat genital juga memasukkan sperma ke dalam oviduk ikan laut. Tanda-tanda jenis kelamin yang sekunder pada beberapa jenis ikan laut yang hidup menetap misalnya pada ikan susu (Kurtusindirus) yang menampakkan perubahan pada masa dewasa. Pada ikan jantan pada jidatnya tumbuh kait tempat menempelkan telur ikan betina (Sutini et al, 1983).

Semoga bermanfaat ^_^

TINGKAT KEMATANGAN GONAD (TKG)

Tinhgakat kematangan gonad merupakan bentuk analisis proses kematangan gonad ikan yang semakin matang sebelum terjadi pembuahan. Dalam reproduksi, sebagian hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Berat gonad semakin bertambah dan mencapai maksimum ketika ikan akan memijah, kemudian beratnya menurun setelah pemijahan. Kondisi gonad ini dapat dinyatakan sebagai berat gonad dibagi berat tubuh ikan (termasuk gonad) dikalikan 100%. Proses reproduksi sebagian besar merupakan hasil metabolisme yang tertuju pada perkembangan gonad. Berat gonad semakin bertambah dan mencapai maksimal ketika ikan itu kan berpijah, kemudian berat ikannya menurun setelah pemijahan (Hartono, 2009).

Salah satu indikator ketersediaan stok reproduktif yang sering digunakan dalam pengelolaan perikanan adalah ukuran ikan pada saat pertama kali matang gonad. Oleh karena itu informasi tentang ukuran ikan pada saat pertama kali matang gonad diperlukan dalam penerapan perikanan bertanggung jawab (Musbir et al, 2006).

Tahap Perkembangan Gonad

Menurut Rustidja (2005), seluruh proses perkembangan telur dapat dibedakan dalam beberapa fase:
1. Studia I : Sel telur primitif (Ovogonium dan Orhovogonium) masih sangat kecil. Ukuran lebih besar dari sel-sel lain (8-12 mikron) pembelahan secara mitosis.
2. Studia II : Sel telur berkembang menjadi ukuran 12-20 mikron, mulai membentuk folikel disekitar sel telur, folikel berfungsi untuk memelihara dan melindungi perkembangan telur, kadang berfungsi sebagai lapisan rangkap dari sel.
3. Studia III : Selama studia tersebut, sel telur tumbuh dan bertamabah besar secara nyata mencapai ukuran 40-200 mikron dan tertutup oleh filokel.

Tiga studia awal ini merupakan perioda yang belum menggunakan nutrien untuk perkembangan telur.
Studia IV : Selama studia ini terjadi produksi ikan pengumpulan nutrien dan kuning telur. Telur terus berkembang menjadi ukuran 200-300 mikron dengan okumulasi bintik-bintik material lipoid dan cytroplasmanya.
Studia V : Studia ini merupakan fase kedua vitelogenesis. Cytoplasma dipenuhi oleh bintik-bintik lipoid dan mulai menghasilkan kuning telur ukuran 350-500 mikron.
Studia VI : Merupakan fase ketiga dari Vitelogenesis pada fase ini kuning telur merupakan bintik-bintik lipoid ke bagian sel.
Studia VII : Proses vitelogenesis telah lengkap. Pada studia ini, telur berukuran 900-1000 mikron. Ketika okumulasi telur telah berakhir, hudeoli tertarik ke bagian tengah nukleus.

Sebelum terjadi pemijahan , sebagian besar metabolisme dalam tubuh dipergunakan utnuk perkembangan gonad. Pada saat ini gonad semakin bertambah berat diikuti dengan semakin bertambah besar ukuran termasuk diameter telurnya. Berat gonad akan mencapai maksimum pada saat ikan kan berpijah, kemudian berat gonad akan menurun dengan cepat selama pemijahan berlangsung sampai selesai. Peningkatan ukuran gonad atau perkembangan studia oosit, pada saat ini terjadi perubahan morfologi yang mencirikan tahap studianya (Rustidja, 2001).

Tingkat Kematangan Gonad

- Menurut Kesteven
Tingkat kematangan gonad menurut Kesteven (Bagenal dan Braum, 1986) dalam Hariati (1990).
1. Dara
Organ seksual sangat kecil berdekatan dibawah tulang punggung. Tester dan ovarium transparan, tidak berwarna sampai abu-abu.
2. Dara Berkembang
Testes dan ovarium bentuknya jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telus satu persatu dapat dilihat dengan kaca pembesar.
3. Perkembangan I
Testes dan Ovariumbentuknya bulat telur, kemerah-merahan dengan pembulu darah kapiler. Mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah telur dapat terlihat oleh mata seperti serbuk putih.
4. Perkembangan II
Testes putih kemera-merahan. Tak ada pati jantan atau keluar bila perutnya ditekan.
5. Reproduksi
Produk seksual keluar bila perut ditekan perlahan berat gonad turun dengan cepat dari awal pemijahan sampai selesai.
6. Kondisi Salin
Produk seksual telah dikeluarkan, lubang pelepasan kemerah-merahan, gonad seperti kantong kempis, ovarium biasanya beberapa telur sisa dan testes.
7. Tahap istirahat
Produk seksual sudah dilepaskan. Lubang pelepasan tidak kemerahan lagi, gonad bentuknya kecil, telur belum dapat dibedakan dengan mata biasa.

- Menurut Takata
Tingkat kematangan gonad menrut Takata dalam Asep (2009) yaitu:
1. Tidak masak gonad sangat kecil seperti benang dan trasparan. Penampang gonad pada ikan jantan pipih dengan warna kelabu, pada ikan betina dengan warna kemerah-merahan.
2. Permulaan masak gonad mengisi 1/4 rongga tubuh. Warnanya pada ikan jantan kelabu atau putih, bentuknya pipih. Sedangkan pada ikan betina warnanya kemerah-merahan atau bening dan bentuknya bulat, telur tidak tampak.
3. Hampir masak, gonad mengisi 1/2 rongga tubuh. Gonad ikan jantan berwarna putih gonad betina berwarna kuning. Bentuk telur tampak melalui dinding ovarium.
4. Masak.

Menurut Tastas dan Takata (1953) dalam Frans (2011), tingkat kematangan gonad ikan sebagai berikut:
1. Tingkat masak, proporsi rongga belum kelihatan.
2. Permukaan masak.
3. Hampir masak.
4. Masak rongga yang menempati sebanyak 75%.
5. Salin.

Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kematangan Gonad

Secara umum abalon di daerah subtropis matang gonad dan mamijah pada musim panas, sedangkan di daerah tropis abalon dapat matang gonad dan memijah sepanjang tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan gonad dibedakan atas faktor yang berkaitan dengan sistem endrokinologi atau sistem hormonal yang bekerja didalam (endogenous) tubuh abalon dan faktor lingkungan yang ada diluar (exogenous) tubuh abalon. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kematangan gonad meliputi temperatur, air, kualitas air, periode panjang (phoperiod), pasang surut, gelombang, temperatur udara, salinitas dan makanan (kualitas dan kuantitas) (Setyono, 2011).

Menurut Sutisma dan Sutarmanto (1995), pematangan gonad di dorong oleh faktor-faktor lingkungan seperti suhu, lama penyinaran matahari, organisme makanan yang tersedia diperairan bebas dan lain-lain.

Semoga bermanfaat ^_^

Food and Feeding Habits

Biologi perikanan berbeda dengan Ichtyologi atau Fisiologi Hewan Air, walaupun merupakan cabang ilmu biologi. Dalam biologi perikanan dipelajari aspek-aspek bilogi ikan dengan tujuan agar orang yang mempelajarinya dapat memanfaatkan dan mengelola sumberdaya perikanan dan tidak melihatnya dari segi ekonomi saja. Salah satu aplikasinya, seseorang dapat mengetahui kapan waktu yang tepat  serta banyak jumlah ikan yang dapat ditangkap dengan terlebih dahulu memahami ruaya serta musim kawin ikan tersebut (Karuniasari, 2011).

Pencernaan dan penyerapan makanan adalah kondisi yang diperlukan perumbuhan dan sejak kompetisi dan pertumbuhan memiliki makna bagi ekologi terutama dalam kaitannya dengan makanan hubungan rumus untuk kompetensi telah diusulkan dalam bab ini, salah satu syarat yang MP singkatan laju produksi organisme makanan yang tersedia bagi ikan. Kita mulai dengan memeriksa apa yang dimaksud dengan makanan yang tersedia (Weatherley, 1972).

Pengertian Food and Feeding Habit

Food habit memiliki arti yang berbeda dengan feeding habits, karena keduanya sering disamakan dalam hal definisi. Food habits mencakup kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan, sementara feeding habits mencakup cara ikan dalam mendapatkan makanan. Kebiasaan makanan dan cara memakan ikan itu secara lami tergantung kepada lingkungan itu hidup (Kurniasari, 2011).

Ikan dapat diklasifikasikan berdasarkan kebiasaab makan masing-masing yaitu detritifor, herbifor, carnivor dan omnivor. Dalam hal ini ikan dapat dikategorikan berdasarkan karakteristiknya yaitu (1) Euryphagus atau makanan semua jenis makanan monophagus atau yang mengkonsumsi satu jenis makanan saja kebanyakan ikan termasuk kedalam carnivor euryphagus. Biasanya kebiasaan makanan dan jenis makanan dapat menentukan bentuk tubuh dan bentuk pencernaannya (Movu dan Cech, 2004).

Food and Feeding Habits Ikan Sampel (Nila)

Nila tergolong ikan pemakan segala tau omnivora sehingga bisa mengkonsumsi makanan berupa hewan atau tumbuhan. Karena itulah, ikan ini sangat mudah dibudidayakan. Ketika masih benih, makanan yang disukai ikan nila adalah zooplankton (plankton hewani), seperti Rohferi Sp., Mona Sp atau Dapina Sp. Selain itu juga memangsa alga atau lumut yang menempel pada benda-benda di habitat hidupnya. Ikan nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya. Jadi setelah mencapai ukuiran dewasa ikan nila bisa diberi makanan tambahan, misalnya pelet (Amri dan Khairuman, 2008).

Makanan utama benih nila berukuran besar adalah algae berfilamen, dentritus dan tumbuh-tumbuhan air. Nila gilf yang dibudidayakan secara semi intensif ataupun intensif mampu memanfaatkan makanan tambahan berupa pellet (pakan buatan). Dalam budidaya terpadu, makanan sisa-sisa bahan buatan berupa kotoran atau limbah lain. Nila gilf yang hidup diperairan alami mencari makanan dengan cara mengais menggunakan ujung mulutnya. Di kolam-kolam tradisional di perairan alami nila gilf sering kali mengais makanan di pinggiran kolam yang agak dangkal makanan yang ditemukan dicicipi kemudian ditelan secara utuh. Cara makan yang demikian dapat berubah jika nila ini dibudidayakan secara intensif nila gilf sangat agresif dan responsif terhadap permbenihan pakan buatan (Djarijah, 2002).

Penggolongan Ikan Berdasarkan Food and Feeding Habit

Menurut Soemarto (1983), berdasarkan jenis makanannya ikan dapat dibedakan dalam beberapa golongan:
1. Jenis Ikan yang Hanya  Makan Bangsa Tumbuh-tumbuhan (Herbivora)
Umumnya ikan pada tingkat larva setealah habis persediaan kuning telur (yolk) mulai makan plankton yaitu tumbuh-tumbuhan halus yang terdapat dalam air termasuk bakteri. Makanan dasar bagi ikan ialah phytoplankton atau plankton nabati. Selain ikan yang menjadi konsumen namanya jenis zooplankton atau plankton hewan.
2. Golongan Ikan Pemakan Daging (Karnivora)
Golongan ikan pemakan daging atau pemakan sebangsanya, ikan ditandai dengan mulut yang relatif besar dengan rahang bergigi. Saringan insangnya kasardan jarang-jarang makan. Makanannya terdiri dari macro intervertebrata misalnya jenis-jenis cacing (anelida), binatang lunak (moluska), crustacea dan arthropoda.
3. Golongan Ikan Pemakan Segalanya, baik tumbu-tumbuhan maupun binatang (Omnivora)
Golongan omnivora terdapat baik dilaut maupun di air tawar giginya tidak tajam sperti pada jenis penerkam mangsa tetapi berbentuk alat pengerat.
4. Golongan Ikan Pemakan Detritus
Pemakan detritus tidak bergigi seperti jenis ikan belanak (mungil), petek (Leioghtus). Detritus adalah sisa-sisa  berasal dari daun-daun yang membusuk. Disekitar tempat terjadinya pembusuk selain bakteri terdapat juga banyak protozoa cacing kecil, larva dan jenis crustucea kecil sebagai sumber makanan ikan.
5. Pemangsa bangkai (scavenger) adalah jenis binatang yang bergerak lambat didasar perairan. Beberapa jenis kepiting udang, bulu babi dan cibalone (haliostis) hidup dan sampah dan sisa-sisa binatang atau tumbuh-tumbuhan.

Menurut Riharnadi (2009), secara umum kebiasaab ikan makan dengan cara makan terdiri dari aspek tempat makan atau lokasi makan, cara makan, waktu makan dan jenis makanan kegemaran ikan. Kebiasaan makan ikan dibagi menjadi beberapa hal, antara lain:
1. Kebiasaan Makan Berdasarkan Tempat
- Ikan di dasar perairan (domersal) yaitu ikan yang mencari makan di dasar perairan. Biasanya jenis ini banyak menghabiskan waktu di dasar perairan. Contohnya ikan lele dan patin.
- Ikan lapisan tengah perairan yaitu ikan yang mencari makanan yang mengapung ditengah perairan. Ikan jenis ini hanya sewaktu-waktu muncul ke permukaan air atau berenang didasar air. Ikan mas dan bausal termasuk dalam kelompok ini.
- Ikan permukaan perairan yaitu ikan yang mencari makan dipermukaan perairan. Contohnya ikan gurami dan nila.
- Ikan menempel yaitu ikan pemakan bahan organik yang menempel pada benda yang terdapat dia ir misalnya ikan sapu-sapu dan nilem.
2. Kebiasaan Berdasarkan Waktu
- Jenis ikan ikan ini aktif mencari makan pada siang hari dan beristirahat pada malm hsri. Contohnya ikan mas, nila, bawal dan gurami.
- Jenis ikan yang mencari makan pada malam hari. Contohnya ikan lele dan patin.
3. Kebiasaan Berdasarkan Jenis Makanan
- Ikan pemakan daging atau hewan (carnivora) misalnya ikan lele, ikan gabus, kakap.
- Ikan pemakan tumbuhan (herbivora) misalnya ikan gurami dan tawes.
- Ikan pemakan segala (omnivora) misalnya ikan mas dan ikan nila.
- Ikan pemakan plankton, contohnya ikan sepat

Semoga bermanfaat ^_^

Kamis, 01 Maret 2012

Coretan Iseng Tanganku 4

Kau buat ku menangis lagi.
Saat aku berusaha menahan lapar dan bersabar.
Aku tak tau sampai kapan ku akan seperti ini terus.
Aku merasa kosong saat aku dan kamu mulai tak cocok.
Aku hampa saat aku dan kamu mulai menjauh.
Rasanya aku ingin kembali ke masa 2 tahun silam.
Saat aku baru mengenalmu.
Ingin ku ulang semuanya.
Akan ku perbaiki semua yang terjadi tanpa sedikit kesalahan lagi.
Tapi aku tau itu takkan mungkin.
Karna waktu telah berputar maju.
Dan tak akan pernah berputar mundur lagi.
Aku tau ku punya kekurangan.
Tapi segitu parah kah kekuranganku.
Hingga kau tak pernah bisa memahaminya.
Apa aku tak pernah sedikitpun membuatmu bahagia?
Aku bertahan disini karna aku sayang kamu.
Karna aku tak pernah memandang siapa kamu.
Aku tak pernah  bisa marah padamu.
Karna aku tau kebaikanmu lebih banyak dari pada kesalahanmu.
Aku merasa kehilangan saat kamu tak ada disini.
Tapi apa kamu juga merasa kehilangan saat aku tak ada disitu?
Walaupun begitu aku percaya kalau kamu juga sayang aku.
Hanya saja kamu tak bisa meredam emosimu yang tinggi itu.
Aku akan terus coba bersabar.
Sampai ku tak mampu lagi.
Meskipun itu akan menyakiti diriku sendiri.
:'):')

Popular Posts

Followers